Categories
Dunia Ponsel

Honor Segera Rilis Seri V40

Dalam teaser di Twitter, Honor disebut-sebut akan merilis seri baru. Seri terbaru Honor ini dibagikan oleh seorang tipster asal India bernama Mukul Sharmal (@stufflistings).

Dalam postingannya, seperti dilaporkan GSM Arena, ia juga mengungkapkan bahwa hp Honor V40 akan segera dirilis dalam waktu dekat.

Sayangnya rincian informasi tentang smartphone tersebut belum diketahui.

Seperti diketahui, Lini V pada smartphone Honor dikenal memiliki spesifikasi terbaru dalam hal chipset, dan juga kamera yang baik. Pihak Honor belum memberikan bocoran tentang smartphone terbaru ini.

Menurut laporan, seri Honor V40 kemungkinan akan hadir dalam tiga varian yaitu V40, V40 Pro, dan V40 Pro+.

Kabar kehadiran V40 tentunya menjadi kabar yang cukup positif, mengingat kabar lain menyebutkan bahwa Huawei sedang dalam pembicaraan dengan Digital China Group, dan pelamar lainnya untuk menjual bagian dari unit smartphone Honor, seperti dilaporkan Reuters.

Sumber tersebut mengungkapkan bahwa Huawei yang tengah dalam tekanan AS, berupaya mengatur ulang prioritasnya dalam menghadapi serangkaian sanksi yang sudah dijatuhkan sejak dua tahun terakhir.

Digital China, distributor utama untuk telepon Honor, telah muncul sebagai pelopor tetapi calon pembeli lainnya termasuk pembuat elektronik China TCL dan pembuat smartphone saingannya Xiaomi.

Jika berhasil dalam penawarannya, Digital China, yang juga bermitra dengan Huawei dalam komputasi awan dan bisnis lainnya, berencana untuk membiayai sebagian besar kesepakatan dengan pinjaman bank dan diatur untuk mengamankan pembiayaan dalam beberapa minggu mendatang.

Penawaran yang dilakukan Digital China kepada Huawei mendorong sentimen positif dari para investor. Tercatat saham perusahaan yang terdaftar di Shenzhen naik sebesar 6%.

Merek Honor didirikan oleh Huawei pada 2013 tetapi sebagian besar bisnisnya beroperasi secara independen dari induknya. Membidik kalangan muda, Honor bersaing dengan Xiaomi, Oppo dan Vivo di pasar ponsel anggaran Cina yang sangat kompetitif.Selain pasar domestik, Honor juga dijual di Asia Tenggara dan Eropa.

Categories
Dunia Ponsel

HarmonyOS 2.0 Akan Disematkan Pada Huawei Mate 40

Sebuah poster di Weibo beredar berisi informasi mengenai kehadiran HarmonyOS 2.0. Berdasarkan keterangan yang ada, ponsel dengan chipset Kirin 9000 akan menjadi yang pertama bisa mencicipi HarmonyOS.

Tidak hanya itu beberapa smartphone yang menjalankan EMUI 11 akan bisa memasang HarmonyOS 2.0. Diaporkan GSM Arena, OS tersebut sedang dirilis untuk developer dan versi beta pertama untuk ponsel diprediksi hadir pada Desember 2020.

Adapun Mate 40 diprediksi meluncur pada pertengahan bulan ini di pasar Tiongkok. Peluncuran di pasar global akan dilakukan pada tahun depan.
Mengacu dari peluncuran Mate 30 pada tahun lalu dirilis di Tiongkok pada akhir September, diikuti peluncuran di Eropa pada akhir November.

Huawei mulai memperluas pemasarannya ke lebih banyak negara dengan beberapa peluncuran paling lambat pada Januari 2020.Seri Huawei Mate 40 diprediksi akan mengikuti skema serupa, tapi kemungkinan akan lebih lambat untuk pasar global.

Baca Juga : Tahun Ini Huawei Mate 40 Batal Dirilis

Seperti dilaporkan sebelumnya, Huawei 40 akan dirilis tahun depan. Informasi mengenai penundaan peluncuran ini berasal dari pembocor Evan Blass. Alasan di balik penundaan ini belum diketahui pasti. Ada beberapa kemungkinan alasan, termasuk Huawei yang tidak bisa lagi menggunakan jasa TSMC mulai 15 September, serta tidak lagi dapat menggunakan OLED dari Samsung dan LG.

Spekulasi sebelumnya Huawei Mate 40 akan datang dengan layar buatan LG Display melengkung 6,67 inci. Tampilan ini akan memiliki kecepatan refresh 90Hz. Tetapi informasi terbaru mengungkapkan, seri Huawei Mate 40 akan menggunakan lensa Sony IMX700. Ini adalah sensor 50MP yang ada di ponsel andalan Honor 30 Pro+ (Plus).

Categories
Dunia Ponsel

Sony dan Kioxia Ajukan Permohonan ke AS

Sony Corp Jepang dan pembuat chip memori Kioxia Holdings Corp telah mengajukan permohonan persetujuan AS untuk terus memasok Huawei Technologies Co Ltd, Nikkei melaporkan pada hari Minggu (4/10).

Jika dikonfirmasi, langkah tersebut mengikuti perusahaan teknologi lain seperti Intel Corp yang baru-baru ini menerima lisensi dari otoritas AS.

Huawei adalah salah satu pelanggan teratas untuk sensor gambar Sony untuk smartphone. Kioxia Holdings Corp adalah pembuat chip memori flash No. dua di dunia dan juga pemasok utama Huawei. Tanpa lisensi AS, Sony dan Kioxia akan menghadapi risiko atas penghasilan mereka .

Kioxia memperingatkan bahwa pembatasan AS pada Huawei dapat memicu kelebihan pasokan chip memori dan menurunkan harga. Perusahaan baru-baru ini mengesampingkan rencana untuk daftar multi-miliar dolar karena ketegangan AS-China menutupi pasar chip global.

Seorang juru bicara Sony mengatakan perusahaan itu mematuhi semua peraturan, tetapi tidak dapat mengomentari klien tertentu. Namun juru bicara Kioxia menolak berkomentar, Nikkei menambahkan.

Sebelumnya Intel dipastikan menjadi vendor pertama yang secara terbuka menyatakan telah diberikan lisensi khusus dari pemerintah AS untuk terus memasok peralatan tertentu ke Huawei, setelah pembatasan diperketat pada vendor China itu pada 15 September 2020.

Sejumlah pembuat chip lainnya termasuk Qualcomm, Micron Technology, Samsung, SK Hynix, Macronix International, MediaTek dan Semiconductor Manufacturing International Corp (SMIC) juga dikabarkan telah mengajukan permohonan penangguhan hukuman tersebut. Namun selain Intel, sejauh ini belum ada pembaruan mengenai status aplikasi mereka.

Huawei, pemasok perangkat telekomunikasi terbesar di dunia dan produsen smartphone terbesar kedua ini, mengandalkan komponen-komponen utama dari beberapa perusahaan teknologi AS. Tahun lalu, Huawei membeli komponen dan suku cadang senilai US$70 miliar dari 13.000 pemasok.

Dari total tersebut sebesar US$11 miliar atau setara Rp156,2 triliun (US$1 = RP 14.200) dihabiskan untuk produk dari perusahaan AS, termasuk chip komputer dari Qualcomm dan Broadcom, serta perangkat lunak Microsoft dan Google Android Google. Pendapatan sebesar itu, terancam menguap akibat keputusan Presiden Donald Trump yang menganggap Huawei sebagai ancaman keamanan AS dan global.

Categories
Dunia Ponsel

Huawei Siap Rilis Chipset Terakhir

Huawei dikabarkan siap merilis chipset andalan terakhir perusahaan, yakni Kirin 9000.

Laporan terbaru mengklaim bahwa Huawei bakal menghadirkan prosesor Kirin 9000 pada bulan (Oktober) ini. Besar kemungkinan chip pintar itu bakal meluncur bersamaan dengan Huawei Mate 40, seperti dilaporkan Gizchina, Minggu (4/10).

Baca juga:  Huawei Mate X2 Segera Meluncur

Tentu saja, seri Mate 40 akan menjadi yang pertama menggunakan chip ini. Diharapkan Kirin 9000 terbenam pada Huawei Mate 40, Mate 40 Pro, Mate 40 Pro +, dan mungkin Edisi Porsche. Selain itu, ada juga laporan bahwa tablet andalan Huawei akan menggunakan chip ini. Ini cukup mengejutkan mengingat ketersediaan Kirin 9000 SoC yang hanya terbatas.

Menurut sumber di rantai pasokan, Huawei menempatkan 15 juta pesanan Kirin 9000 ke TSMC. Namun karena keterbatasan waktu produksi, TSMC tidak dapat memproses pesanan secara penuh sebelum batas larangan. Produsen chip asal Taiwan itu hanya mampu mengirimkan 8,8 juta unit.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa TSMC tidak akan dapat melakukan transaksi bisnis apa pun dengan Huawei setelah tanggal 15 September. Hal ini disebabkan oleh larangan AS terbaru terhadap Huawei. Ini juga berarti bahwa TSMC tidak dapat lagi terus memproduksi prosesor Kirin. Dengan kata lain, Kirin 9000 menjadi andalan terakhir perusahaan.

Categories
Dunia Ponsel

Huawei Mate X2 Segera Meluncur

Huawei dikabarkan bersiap dengan smartphone layar lipat terbaru. Menurut informasi yang beredar ponsel layar lipat sebelumnya hadir dengan layar lipat luar, tetapi, Mate X2 akan berbeda, karena dikatakan menampilkan layar lipat ke dalam.

Meskipun spesifikasi dan gambar yang disebut-sebut sebagai Mate X2 terus bermunculan, namun hingga saat ini tanda-tanda kapan kehadiran Mate X2 tak kunjung datang.

Hal ini ditandai dengan sertifikasi WiFi baru dari Wi-Fi Alliance. Hal ini mengindikasikan Huawei Mate X2 akan segera hadir. Tidak ada keterangan mengenai waktu peluncurannya.

Namun dengan catatan, jika chip Kirin 1000 terbatas, tentunya akan membuat smartphone lipat Huawei Mate X2, baru bisa meluncur pada tahun depan.

Informasi baru ini juga mengungkapkan Mate X2 akan mendukunga WiFi 6 dan EMUI 11.

Dalam laporan mengenai smartphone lipat lain Huawei, Mate Xs disebut telah memasuki program beta EMUI 11. Hal ini mengindikasikan software terbaru untuk smartphone tersebut akan segera hadir.

Sebelumnya, Ross Young, yang merupakan Pendiri dan Analis Utama DisplaySearch dan DSCC menanggapi tweet dari leakster andal Evan Blass, Young mengklaim bahwa Mate X2 akan memiliki layar lipat ke dalam, yang akan bersumber dari Samsung dan BOE. Dan itu bukan tipe UTG, melainkan CPI.

Tweet Blass juga mengungkapkan nama-nama produk Huawei yang akan datang bersama nama kodenya di postingan. Mate X2 adalah Teton, sedangkan Nova generasi berikutnya dan Y9a masing-masing adalah Jessica/Barbie dan Franklin.

Categories
Dunia Ponsel

Huawei Meningkatkan Tranformasi Digital di Asia Pasifik

Melalui acara tahunan Huawei Connect, Huawei memperkenalkan perubahan paradigma untuk transformasi digital di sektor industri, dengan tujuan menumbuhkan ekosistem yang kuat dan mendorong dikembangkannya solusi-solusi untuk skenario spesifik bagi masyarakat Asia Pasifik di masa depan dengan budaya yang serba cerdas.

Paradigma baru, menurut perusahaan teknologi global ini, mengutamakan ekosistem digital yang mampu menciptakan serta berbagi nilai untuk industri, melalui sinergi lintas konektivitas, komputasi, Cloud, AI, dan aplikasi industri.

Menurut Panduan Pengeluaran Transformasi Digital Semiannual IDC Worldwide, biaya pengeluaran untuk transformasi digital di Asia Pasifik pada tahun 2019 mencapai lebih dari US$380 miliar, dengan tingkat pertumbuhan gabungan tahunan yang diharapkan dari tahun 2017 hingga 2022 sebesar 17,4%.

“Asia Pasifik adalah rumah bagi beberapa pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia, 60 persen populasi dunia, dan sekitar 50 persen pengguna internet global. Kawasan Asia Pasifik tidak hanya menjadi pemimpin global di bidang inovasi digital, tetapi juga memiliki peluang besar untuk berkembang pesat dengan sinergi teknologi baru ini,” kata Jay Chen.

Baca juga:  Ericsson Vs Huawei: Siapa yang Menjadi Juara 5G?

Menyadari pentingnya transformasi digital, Huawei terus mengembangkan dan memperkuat ekosistem di Asia Pasifik melalui serangkaian program. Huawei mengungkapkan bahwa Program Mitra Ascend APAC, yang bertujuan untuk membangun ekosistem AI yang inovatif dan berkelanjutan, telah menjangkau lebih dari 100 mitra ISV dan telah didukung dengan 27 Nota Kesepahaman antara Huawei dengan Lembaga Pendidikan Tinggi dan asosiasi pemerintah di seluruh dunia. Salah satunya, Indonesia.

Prof. Ir. Nizam, M.Sc, DIC, Ph.D., Dirjen DIKTI, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Republik Indonesia mengutarakan “Kami akan menerapkan studi AI di universitas-universitas di Indonesia untuk menekankan pentingnya AI di sektor pendidikan. Kami juga akan membangun iklim baru digitalisasi pendidikan untuk mendorong terwujudnya kampus yang lebih cerdas dan lingkungan belajar yang lebih baik. Oleh karena itu, sangat penting bagi pendidikan tinggi dan industri untuk bekerja sama membangun wadah pembinaan bagi SDM masa depan, serta mengembangkan R&D untuk mendukung pengembangan AI di semua sektor.”

“Ini merupakan fokus kerja sama kami, Dijen Dikti, dengan Huawei. Kami mengapresiasi dukungan penuh komitmen yang diberikan oleh mitra kami, Huawei, dan kami berharap kolaborasi ini dapat mendukung peningkatan kompetensi SDM AI di Indonesia sekaligus mempercepat penerapan teknologi AI di dunia pendidikan tinggi di Indonesia,” sambungnya.

Tak sampai disitu, Huawei juga telah membangun jaringan untuk mendukung ekosistem di lima domain teknologi di Asia Pasifik. Jay Chen menambahkan bahwa Huawei berkomitmen untuk mengembangkan setidaknya 200.000 profesional TIK selama lima tahun ke depan di Asia Pasifik melalui program-program tersebut.

Pada fase berikutnya, Huawei akan bekerja dengan mitranya untuk menerapkan teknologi TIK baru ke industri, membantu perusahaan mengembangkan bisnis mereka dan membantu pemerintah mencapai tujuan strategis mereka untuk meningkatkan industri dalam negeri, memberi manfaat kepada konstituen mereka, dan meningkatkan tata kelola secara keseluruhan.

“Huawei percaya bahwa sinergi di lima domain teknologi ini tidak hanya akan membawa peluang bagi Huawei, tetapi yang lebih penting, mereka akan menghadirkan peluang bagi seluruh sektor. Huawei berharap untuk mengembangkan keseluruhan kue dengan mitra kami, memungkinkan semua orang untuk memperoleh manfaat dari rantai nilai baru,” kata Jay Chen.

Categories
Dunia Ponsel

Ericsson Vs Huawei: Siapa yang Menjadi Juara 5G?

Ada banyak pemain di bisnis infrastruktur nirkabel. Namun terdapat empat vendor besar, yakni Ericsson, Nokia, Huawei dan ZTE. Sejak beberapa tahun terakhir, vendor-vendor itu bersaing ketat memperebutkan pasar terbesar di jaringan 5G.

Kita ketahui, 5G akan menjadi standar baru teknologi selular masa depan. Sehingga memenangkan kontrak 5G, menjadi wajib hukumnya bagi vendor penyedia jaringan, agar bisa tetap bersaing di industri teknologi tinggi ini.

Permintaan akan infrastruktur 5G di pasar global telah meningkat sebagai hasil dari kemajuan teknologi selular. Sejak diluncurkan secara komersial pada awal 2019, 5G telah mencakup tiga jenis layanan utama yang saling terhubung, yaitu IoT (Internet of Things), broadband selular, dan komunikasi kritis.

Kehadiran 5G akan meningkatkan sekaligus memajukan pengalaman selular dengan pengurangan latensi, biaya per bit rendah, kecepatan data yang konsisten dan lebih tinggi. Segmen lain, yakni game real time, AR, VR, dan MR akan berdampak besar karena penerapan 5G.

Dengan hanya melibatkan segelintir pemain besar, struktur pasar industri jaringan cenderung bersifat oligopolis. Karena pemainnya tidak banyak, itu berarti semua vendor memiliki kesempatan yang sama untuk meraih kontrak 5G di seluruh dunia.

Dalam kajian terbaru dari lembaga riset TrendForce, Huawei diperkirakan akan memimpin pasar mobile base station 5G global pada tahun ini dengan total pangsa 28,5%, naik dari 27,5% dibandingkan 2019.

Posisi kedua diduduki oleh vendor Swedia Ericsson, dengan pangsa pasar 26,5%. Namun perolehan itu turun dari pangsa pasar global sebesar 30% pada 2019.

Vendor asal Finlandia, Nokia diperkirakan hanya mencapai 22% pada 2020, turun dari 24,5%. Begitu pun dengan vendor China ZTE diprediksi meraih pangsa pasar 5% tahun ini, turun dari 6,5% dari tahun lalu.

Pertumbuhan pesat justru dinikmati oleh Samsung. Aksi pembatasan oleh AS dan sekutu-sekutunya terhadap Huawei, memberikan keuntungan bagi Samsung yang sebelumnya masih disebut sebagai anak bawang di industri jaringan. TrendForce memperkirakan, chaebol Korea itu mampu meningkatkan pangsa pasar jaringan 5G global, dari 6,5% tahun lalu menjadi 8,5% pada 2020.

Merujuk pada laporan TrendForce itu, berdasarkan skala dan kehadiran pasar yang sangat signifikan, terlihat jelas bahwa Ericsson dan Huawei bersaing ketat dalam memperebutkan pasar 5G global yang mulai tumbuh secara massif sejak tiga tahun terakhir.

Seperti apa rivalitas keduanya dalam memperebutkan pasar jaringan 5G? Mari kita kulik kekuatan dan juga kelemahan kedua vendor terdekat itu.

Ericsson

Bagi Ericsson, menjadi vendor terbesar di industri 5G, menjadi salah satu pembuktian bahwa perusahaan-perusahaan Eropa masih menjadi kiblat dari industri selular dunia.

Seperti kita ketahui, pasar jaringan telekomunikasi sebelumnya identik dengan vendor-vendor Eropa, khususnya negara-negara Skandinavia. Selama bertahun-tahun, pemain seperti Ericsson, Nokia, Alcatel Lucent (almarhum), Siemens (almarhum) telah menguasai bisnis jaringan sejak era 1G dan 2G.

Namun transisi teknologi ke 3G dan kemudian berlanjut ke 4G, mengubah peta pasar. Dimotori oleh Huawei dan ZTE, vendor China semakin agresif. Strategi harga lebih murah dibandingkan para pesaing, membuat pamor vendor-vendor China dengan cepat melejit.

Wajar jika akhirnya mereka mampu meraih kontrak di banyak negara, baik Asia Pasifik, Afrika, Eropa, AS, Australia, hingga Amerika Latin. Alhasil, dengan memanfaatkan peluang pertumbuhan 4G, hanya dalam satu dekade kemudian, Huawei mampu melibas Ericsson dan Nokia.

Berdasarkan laporan Dell’Oro Group, hingga semester pertama 2020, lima vendor jaringan teratas ditempati Huawei, Nokia, Ericsson, ZTE dan Cisco.

Meski tengah dalam tekanan AS, sebagai market leader, pangsa pasar Huawei justru meningkat menjadi 31% dari 28% pada tahun lalu.

Nokia turun dari 16% tahun lalu menjadi 14%. Sedangkan Ericsson tetap bertahan di 14%. Di sisi lain, market share ZTE meningkat dari 9% tahun lalu menjadi 11%. Vendor asal AS, Cisco turun dari 7% menjadi 6% dalam jangka waktu yang sama.

Meski saat ini pangsa pasar Nokia tidak berbeda dengan Ericsson, namun dari sisi kontrak 5G, Ericsson jauh mengungguli Nokia.

Dalam pernyataan resmi pada Agustus lalu, Ericsson mengumumkan telah meraih perjanjian atau kontrak komersial jaringan 5G ke-100 dengan penyedia layanan komunikasi di seluruh dunia.

Angka tersebut termasuk 58 kontrak yang diumumkan secara publik dan 56 jaringan 5G yang sudah live di lima benua. Sementara Nokia pada Maret 2020, baru meraih 63 kontrak 5G komersial.

Meski telah meraih kontrak 5G secara signifikan, namun bukan rahasia lagi bahwa Ericsson masih terus berjuang secara finansial. Padahal sejak lima tahun terakhir, vendor yang berbasis di Stockholm itu, telah memulai serangkaian pemotongan biaya dalam upaya untuk membalikkan penurunan tajam dalam kinerja keuangan.

Demi menekan lonjakan biaya operasional, perusahaan terpaksa melakukan rasionalisasi hingga 25.000 pekerja di luar Swedia. Perusahaan juga memfokuskan kembali bisnisnya menjelang booming penyebaran teknologi 5G di pasar global.

Namun sejauh ini, kinerja Ericsson masih terbilang turun naik. Tak terkecuali pada tahun ini, saat dunia tengah menghadapi wabah corona. Tercatat pendapatan Ericsson turun sebesar 2% menjadi SEK 49,8 miliar pada Q1 2020 dibandingkan dengan 48,9 miliar pada Q1 2019. Penjualan turun di setiap unit bisnis perusahaan kecuali jaringan, yang mencatat pertumbuhan nol, padahal sebelumnya mengalami peningkatan 10% pada kuartal tahun sebelumnya. Seperti bisnis lainnya, pandemi corona membuat kinerja Ericsson terpangkas.

CEO Ericsson Borje Ekholm, mengatakan bahwa pihaknya berusaha mempertahankan target pendapatan dan laba untuk tahun 2020 dan 2022, meskipun pandemi virus corona telah menyebar ke seluruh dunia.

“Kami tetap memandang positif pada prospek jangka panjang. Meski demikian kuartal kedua kemungkinan akan sedikit lebih lambat dari biasanya karena waktu kontrak strategis dan ketidakpastian yang disebabkan oleh Covid-19,” kata Ekholm.

Walaupun mengharapkan peningkatan 10% di akhir tahun, dan pengeluaran berkelanjutan untuk peluncuran 5G oleh pelanggannya, Ericsson tidak dapat berbuat apa-apa tentang penundaan lelang spektrum di Eropa yang akan menghambat aktivitas bisnisnya di wilayah tersebut.

Salah satu ketidakpastian adalah apakah COVID-19 akan mendorong penyedia layanan di bawah tekanan penjualan untuk mengurangi investasi yang direncanakan di jaringan selular tahun ini.

Di negara-negara yang melakukan lockdown, sebagian besar pertumbuhan lalu lintas data terjadi pada jaringan fixed broadband, dan beberapa operator mungkin tidak lagi melihat 5G sebagai prioritas langsung.

Huawei

Karena tekanan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya,  Huawei telah menghadapi banyak krisis global sejak beberapa tahun terakhir. Namun persoalan geopolitik tidak menghentikan raksasa teknologi China itu untuk menikmati beberapa kesuksesan.

Vendor yang berbasis di Shenzen itu melaporkan pendapatan sebesar 454 miliar yuan (sekitar $ 64,9 miliar) untuk paruh pertama 2020. Tumbuh sekitar 13,1% lebih banyak dibandingkan 2019. Bahkan margin laba bersih meningkat dari 8% menjadi 9,2% selama periode tersebut.

Meskipun Huawei tidak merinci angka-angka yang saat ini belum diaudit, perusahaan yakin pandemi COVID-19 tidak merusak seperti yang terjadi pada perusahaan lain. Teknologi komunikasi dan informasi telah menjadi “alat penting” untuk memerangi virus dan memacu pemulihan ekonomi, kata perusahaan yang berbasis di Shenzen itu.

Bagaimana pun, dampak pandemi membuat kinerja perusahaan sedikit menurun. Pada kuartal 1-2020, Huawei hanya mencatat kenaikan pendapatan 1,4% dari tahun ke tahun.

Pandemi telah memengaruhi seluruh industri selular, menyebabkan perusahaan memperlambat produksi, menutup toko ritel, dan kehilangan beberapa penjualan perangkat. Huawei tampaknya sangat terpukul selama kuartal pertama 2020, ketika pandemi mencapai puncaknya di negara asal perusahaan itu, China.

Perlu dicatat juga bahwa penurunan itu terjadi di tengah tekanan terus-menerus dari AS. Dengan alasan keamanan dan spionase, AS memperpanjang perintah larangan perdagangan terhadap Huawei hingga Mei 2021.

Langkah tegas AS kemudian diikuti oleh Inggris dan Perancis. Kedua negara itu menganulir keputusan sebelumnya yang mengizinkan peralatan Huawei terlibat di bagian non-inti dari jaringan 5G.

Begitu pun dengan Italia. Operator terbesar di negara sphageti itu, Telecom Italia telah mengeluarkan Huawei dari tender peralatan 5G untuk jaringan inti yang sedang dipersiapkan untuk dibangun di Italia dan Brasil.

Bukan tidak mungkin, negara-negara lain Eropa seperti Jerman dan Polandia akan mengikuti jejak yang sama. Padahal, pasar jaringan di kawasan Eropa selama ini menjadi sumber utama pendapatan Huawei.

Huawei telah memproduksi banyak peralatan yang digunakan di jaringan 2G, 3G, dan 4G di Inggris dan Eropa. Vendor dengan logo mirip bunga merah menyala itu, memegang 65% pangsa pasar jaringan akses nirkabel 2G dan 4G untuk operator EE (Everything Everywhere) di Inggris. Huawei juga menempati 50% pangsa pasar jaringan 2G, 3G dan 4G Vodafone, operator selular terbesar di Eropa.

Tak dapat dipungkiri, bahwa hari-hari pertumbuhan pesat yang sebelumnya diraih oleh Huawei mungkin sudah berlalu. Patut dicatat, meskipun perusahaan meraih pertumbuhan 13,1% pada semester pertama 2020, namun pencapaian itu jauh lebih kecil dibandingkan lonjakan pendapatan sebesar 39% yang diraih setahun sebelumnya.

Tak dapat dipungkiri, aksi pemblokiran oleh pemerintah AS membuat Huawei berada dalam tekanan. Ketua rotasi Huawei Eric Xu, mengakui bahwa 2019 adalah tahun paling sulit yang pernah dihadapi perusahaan.

Hal itu diperberat dengan adanya wabah virus corona yang mengganggu rantai pasokan. Xu memperkirakan pada 2020 dampaknya akan lebih keras, sehingga membuat hampir mustahil untuk secara akurat memperkirakan kinerja perusahaan.

Sebelumnya pada Juni 2019, pendiri dan CEO Huawei Ren Zhengfei, memperingatkan bahwa berbagai pembatasan oleh AS akan memangkas hingga USD30 miliar potensi pendapatan selama dua tahun ke depan. Reng pun memprediksi, revenue perusahaan diperkirakan akan anjlok menjadi sekitar US$ 100 miliar pada 2020.

Meski didera virus corona dan sulit keluar dari tekanan AS, Ren menegaskan bahwa hal itu tidak mengurangi upaya perusahaan untuk mengembangkan teknologi sendiri, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor AS.

Itu sebabnya, Ren mengatakan bahwa Huawei akan kembali meningkatkan anggaran riset dan pengembangan (R&D) pada 2020 sebesar $ 5 miliar menjadi lebih dari $ 20 miliar. Angka itu, bakal menempatkan Huawei sebagai perusahaan terbesar kedua di dunia dalam alokasi investasi R&D.

Sekedar diketahui, investasi R&D raksasa teknologi China itu pada 2018 sudah menempati peringkat ke-4 di antara perusahaan teknologi global. Melampaui Microsoft, Apple dan Intel.

Menurut statistik Uni Eropa, investasi litbang Huawei pada 2018 sebesar 101,5 miliar yuan ($ 15,1 miliar). Meninggalkan Samsung, Google, dan Volkswagen.
Sepanjang 2018, perusahaan meraih 721,2 miliar yuan dalam pendapatan penjualan global, menghabiskan 14,1 persen dari total pendapatan untuk anggaran R&D.

Pada 2019, ditengah tekanan yang semakin kuat dari AS dan sekutu-sekutunya, pengeluaran litbang Huawei meningkat 30 persen menjadi CNY131,7 miliar, atau 15,3 persen dari total pendapatan. Tercatat total pengeluaran R&D Huawei dalam sepuluh tahun hingga akhir 2019 sudah melebihi CNY600 miliar.

Investasi sebesar itu diklaim telah membantu Huawei mempertahankan posisi terdepan dalam teknologi 5G. Pada awal Februari 2020, Huawei menyebutkan telah menandatangani 91 kontrak 5G komersial dan mengirimkan lebih dari 600.000 unit antena aktif 5G ke berbagai negara.

Meski Huawei meyakini dapat mengatasi tekanan AS, namun tak dapat dipungkiri bahwa kinerja perusahaan telah melambat. Tanpa akses ke pasar startegis seperti Eropa dan AS, perusahaan mungkin tidak memiliki banyak ruang untuk tumbuh.

Pencapaian pada kuartal pertama 2020, telah menunjukkan hal tersebut. Tercatat pendapatan naik hanya 1,4%, turun tajam dibandingkan peningkatan 39% setahun sebelumnya. Laba bersih di raksasa China itu juga turun hampir 8%, menjadi hanya sekitar $ 1,9 miliar.

Beruntung, Huawei masih dapat mengandalkan pasar domestik. Pasca peluncuran komersial pada Oktober 2019, China saat ini tengah berpacu dengan penyebaran 5G-nya sendiri.

Sebagai pemasok domestik terbesar, Huawei kemungkinan akan menjadi penerima manfaat utama. Perusahaan telah mendapatkan sekitar 58% dari tender China Mobile senilai sekitar $ 5,2 miliar.

Dengan China menargetkan peluncuran sekitar setengah juta mobile base station 5G pada akhir 2020, China Telecom dan China Unicom, dua operator nasional lainnya, diharapkan mengumumkan kontrak multi-miliar dolar pada waktunya.

Namun pencapaian yang luar biasa di dalam negeri tak ada artinya jika pasar global menjadi terbatas. Apa boleh buat, jika AS tidak mengendurkan tekanannya, Huawei terancam jadi “Jago Kandang”.

Categories
Dunia Ponsel

Harga Jual Offline Laptop Huawei MateBook D15 Dibandrol Rp8,7 Juta

Usai masa pre-order eksklusif di JD.ID awal September, laptop terbaru Huawei kini sudah tersedia secara nasional. Baik melalui mitra channel online maupun mitra offline, Matebook D15 dijajakan dengan harga resmi Rp8.699.000.

Dengan mengacu kepada gaya hidup baru yang serba online, mulai dari anak-anak hingga dewasa membutuhkan perangkat elektronik, baik untuk Work From Home (WFH), kuliah online, maupun Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), Huawei MateBook D15 diluncurkan untuk melengkapi segala aktivitas para pengguna, mulai dari bekerja hingga kebutuhan hiburan.

MateBook D15 dilengkapi dengan berbagai fitur yang ditingkatkan yang memberikan pengalaman pengguna yang lebih baik, termasuk Huawei FullView Display, Multi-Screen Collaboration, Fingerprint Power Button, desain kamera yang unik dan aman, dan Fast Charging.

Memfokuskan pasar kepada anak muda, Huawei MateBook D15 yang berukuran 15,6 inci mempunyai desain yang futuristik serta memperkenalkan konektivitas antar platform yang memungkinkan pengguna untuk bekerja menggunakan banyak perangkat namun hanya melalui satu layar saja.

FullView Display
Laptop MateBook D15 dikemas dengan FullView Display berukuran 15,6 inci dan memiliki ketebalan 16,9 mm. Dengan arsitektur sistem yang kuat dan kapasitas perangkat lunak yang hebat, MateBook D15 menyediakan layar terbesar dan bobot seringan mungkin untuk laptop ukurannya. Selain itu, desainnya yang melengkung dan ramping memberinya identitas yang unik dan penuh gaya.

Multi-Screen Collaboration
Mengikuti fitur OneHop, Multi-Screen Collaboration memfasilitasi interaksi lintas-perangkat yang mulus dengan MateBook D15, memungkinkan pengguna untuk memproyeksikan layar ponsel mereka ke laptop. Ini tidak hanya memungkinkan pengguna untuk memakai aplikasi ponsel dan mengedit file ponsel di laptop mereka, tetapi juga untuk menarik file antara dua perangkat dengan lebih mudah.

Fingerprint Power Button
Dengan adanya fitur ini, pengguna dapat dengan mudah menyalakan dan masuk ke MateBook D15 tanpa harus memasukkan kata sandi hanya dengan menekan tombol Power, yang juga berfungsi sebagai sensor sidik jari. Dikemas dengan chip keamanan terpisah, MateBook D15 menjaga semua informasi pengguna agar tetap aman, dan juga melindungi privasi penggunanya dan memblokir pemantauan jarak jauh dengan menggunakan kamera yang dapat ditarik yang hanya muncul setelah menekan tombolnya.

Fast Charging
MateBook D15 hadir dengan charger Type-C yang praktis, kira-kira berukuran sama dengan charger ponsel. Pengguna dapat menggunakannya untuk mengisi daya ponsel Huawei dan MateBook mereka. Pada saat pengisian daya, MateBook D15 mendukung perlindungan panas berlebih dan secara otomatis memutus daya jika perlu untuk memastikan keamanan pemakainya.

Enhanced Performance
Efisiensi CPU yang meningkat secara pesat membuat laptop ini ideal untuk digunakan dalam berbagai skenario kantor dan juga bermain game yang kompleks. Selain itu, kipas pendingin MateBook D15 juga patut ditonjolkan. Desain kipas berbentuk S memfasilitasi penyebaran panas dan aliran udara, dan sangat meningkatkan kemampuan laptop untuk menghilangkan panas.

Kamera Tersembunyi
Huawei MateBook D15 memiliki kamera tersembunyi yang unik, ditempatkan di antara tombol F6 dan F7, dibangun dengan mempertimbangkan kemajuan teknologi, untuk memastikan rasa aman dan terjamin penggunanya.

“MateBook D15 dan rangkaian produk Huawei lainnya memiliki kekuatan tersendiri, tetapi mereka akan membawa Anda lebih jauh dengan konektivitasnya dan sangat cocok untuk gaya hidup baru kita. Kami bangga mempersembahkan ini untuk konsumen kami di Indonesia dan memberikan mereka penawaran terbaik untuk konsumen kami,” tutup Khing Seng.

MateBook D15 saat ini dibanderol dengan harga Rp8.699.000, dan dapat dibeli melalui Huawei High-end Experience Store (HES), Erafone, Urban Republic, dan toko mitra lainnya serta toko online resmi Huawei di e-commerce pilihan anda.

Categories
Dunia Ponsel

Huawei Anjlok 10%, Vendor Lain Lebih Agresif

Larangan pemerintah AS terhadap Huawei memberikan dampak yang bisa disebut fatal. Kemrosotan bisnis vendor smartphone itu dilaporkan terjadi usai diperkuatnya pembatasan yang diambil negara pimpinan Donald Trump. Firma Riset TrendForce melaporkan, pangsa pasar smartphone di China mengalami perombakan yang cukup besar. Lantaran, anjloknya Huawei, yang merupakan salah satu pemain utama di China.

Dalam laporan resminya, firma riset itu mengatakan proyeksi produksi smartphone Huawei untuk 2020 hanya akan mencapai 170 juta unit. Angka ini lebih rendah 10 persen dibandingkan dengan prediksi sebelumnya, yakni 190 juta unit. Momen ini dimanfaatkan sejumlah pesaing Huawei, mulai dari Xiaomi, Oppo dan Vivo.

“Saat ini, ketiga merek besar tersebut secara bertahap meningkatkan target produksinya, sembari secara agresif menimbun komponen untuk merebut lebih banyak pangsa pasar.” bunyi keterangan resmi TrendForce, Selasa (22/9).

Diantara ketiganya, Xiaomi dilaporkan paling agresif dalam penggandaan komponen. Selanjutnya, diikuti oleh Oppo. Meski berusaha mengambil alih, Firma riset mengatakan tingkat pemanfaatan fasilitas yang masih terbatas dengan kemungkinan adanya kekurangan material seperti prosesor dan modul, bisa menghambat usaha mereka.

Dengan kata lain, akan sulit untuk mengambil alih jika sedikit peluang untuk meningkatkan volume produksi dalam jangka pendek. Sehingga, diperkirakan Huawei akan tetap memegang pangsa pasar senilai 14 persen pada 2020 ini. Sedangkan, pesaingnya mengalami kenaikan yang masih wajar, dimulai dari Xiaomi sebesar 12 persen, Oppo 11 persen dan Vivo 9 persen.

Pasar Global Naik 9% YoY di 2021

Adanya keterbatasan Huawei untuk bergerak justru diprediksi akan berdampak pada meningkatnya produksi smartphone global. Kondisi ini bahkan bisa mendorong kenaikan sebesar 9 persen YoY pada 2021.

Adapun penyebabnya karena tiga vendor smartphone pesaing seperti Xiaomi, Oppo dan Vivo akan diminta untuk meningkatkan volume produksi, agar dapat mengisi kekurangan kapasitas dari Huawei.

“Tahun 2021, Xiaomi, Oppo, dan Vivo akan diminta untuk meningkatkan target produksi mereka dan dengan demikian mendapatkan lebih banyak sumber daya dari rantai pasokan ponsel cerdas karena kehilangan pangsa pasar Huawei yang akan datang,” bunyi laporan riset.

Meski begitu, secara keseluruhan dikatakan pangsa pasar smartphone tidak akan meningkat secara jelas, tetapi tetap ada persaingan diantara berbagai merek yang bahkan semakin memanas.

Categories
Dunia Ponsel

Huawei Nova 7 SE Life Terlihat di Tenaa

Nova 7 SE Life dilaporkan muncul di situs web regulator Tiongkok, Tenaa. Berdasarkan keterangan yang ada, smartphone tersebut dilengkapi prosesor octa-core 2.4 GHz.

Perangkat dengan nomor model CND-AN00  datang membawa lebih banyak spesifikasi dan juga beberapa gambar yang memberi kita pandangan seperti apa Huawei Nova 7 SE Life.

Sementara quad-camera belakang akan mencakup kamera utama 64 megapiksel dengan ditemani bersama kamera utrawide 8 megapiksel dan sepasang kamera 2 megapiksel yang masing-masing mungkin berperan sebagai lensa makro serta sensor kedalaman.

Informasi tersebut juga mengatakan, bahawa dapur pacu smartphone ini bakal ditemani bersama RAM 8GB dan penyimpanan asli sebesar 128GB yang selanjutnya datang dengan menjalankan OS Android 10.

Baca Juga : Ngulik Spesifikasi Huawei Nova 7

Melengkapi spesifikasi, Nova 7 SE akan memiliki sensor sidik jari dan baterai minimum berkapasitas 3.900 mAh untuk membuatnya dapat terus menyala yang juga dikabarkan dilengkapi oleh dukungan 40W super charging dan sekali lagi ini mirip dengan Nova 7 SE yang sekarang.

Sejauh ini belum ada konfirmasi tentang waktu peluncuran Huawei Nova 7 SE Life. Tetapi seperti sudah terjadi sebelum – sebelumnya, perangkat yang sudah menerima sertifikasi Tenaa, biasanya peluncurannya sudah dekat.