Categories
Dunia Ponsel

Nokia Dapat 100 Kontrak 5G Komersial

Nokia mengumumkan telah mencapai 100 kesepakatan 5G komersial secara keseluruhan, setelah menambahkan 17 perjanjian baru sepanjang Q3-2020, menyegel kemenangan besar di Inggris dan Finlandia sambil melihat peningkatan daya tarik di antara pelanggan perusahaan.

Dalam sebuah pernyataan, Nokia mengatakan perjanjian baru itu memvalidasi kemajuannya dalam memperkuat portofolio produk radio selular saat transisi ke 5G terus berlanjut. Selain 100 kesepakatan komersial dengan pelanggan individu, Nokia mengatakan memiliki total 160 “keterlibatan 5G komersial”, termasuk uji coba berbayar.

Minggu ini, perusahaan juga menandatangani kesepakatan baru dengan BT Inggris, sekaligus memperbarui perjanjian 5G yang sebelumnya sudah ditandatangani dengan operator Elisa di Finlandia.

Kesepakatan perusahaan terdiri dari 12 persen dari totalnya, dengan penerapan nirkabel pribadi baru-baru ini termasuk Deutsche Bahn, Toyota Production Engineering dan Sandvik.

Perusahaan mengharapkan pertumbuhan lebih lanjut di segmen perusahaan, menambahkan portofolio yang memiliki 180 pelanggan nirkabel swasta, banyak di antaranya diharapkan untuk bermigrasi ke 5G.

Kemenangan Nokia baru-baru ini terutama di Inggris, tidak diragukan lagi akan memberikan dorongan bagi perusahaan, setelah kehilangan beberapa tender profil tinggi awal tahun ini, terutama di pasar China.

Pada Mei lalu Nokia dibekukan dari dua tender 5G senilai hampir $ 10 miliar di China, pasar telekomunikasi terbesar di dunia yang mempercepat peluncuran 5G, saat sebagian besar negara lain mengurangi penyebaran karena pandemi Covid-19. Terkecuali Nokia, empat vendor jaringan masing-masing ZTE, Huawei, Datang Mobile, Ericsson kebagian kontrak 5G dari tiga operator selular China.

Pengumuman 100 kesepakatannya juga sangat tertinggal di belakang saingan Eropa Ericsson. Vendor asal Swedia itu mengatakan telah mencapai kontrak sebanyak itu pada Agustus lalu.

Selain vendor mapan Ericsson dan Huawei, Nokia juga menghadapi persaingan dari pemain lain seperti Samsung yang sebelumnya tidak diperhitungkan. Rakasasa asal Korea Selatan itu baru-baru ini mencapai kesepakatan untuk membangun jaringan 5G berskala besar dengan operator AS Verizon.

Meski menghadapi tantangan yang semakin ketat dengan pesaing-pesaing terdekatnya, tak diragukan lagi bahwa tercapainya 100 kontrak 5G memberikan tambahan energi bagi Nokia. Pencapaian itu juga membuktikan perubahan kepemimpinan di Nokia berdampak positif.

Seperti diketahui, pada Agustus lalu Nokia mengumumkan naiknya Pekka Lundmark, sebagai CEO baru menggantikan Rajeev Suri. Walaupun menghadapi tantangan yang tak ringan, mengingat kinerja Nokia yang menurun sejak beberapa tahun terakhir, namun Pekka diuntungkan dengan situasi pelik yang kini dialami oleh Huawei.

Meningkatnya resistensi atau penolakan dari banyak negara karena tekanan AS, kemungkinan akan mendorong banyak operator selular untuk menghindari vendor China dalam tender 5G mereka yang akan datang. Kondisi tersebut jelas memberikan peluang besar bagi Nokia, mengingat industri jaringan hanya didominasi oleh segelintir vendor saja.

Categories
Dunia Ponsel

Ericsson Vs Huawei: Siapa yang Menjadi Juara 5G?

Ada banyak pemain di bisnis infrastruktur nirkabel. Namun terdapat empat vendor besar, yakni Ericsson, Nokia, Huawei dan ZTE. Sejak beberapa tahun terakhir, vendor-vendor itu bersaing ketat memperebutkan pasar terbesar di jaringan 5G.

Kita ketahui, 5G akan menjadi standar baru teknologi selular masa depan. Sehingga memenangkan kontrak 5G, menjadi wajib hukumnya bagi vendor penyedia jaringan, agar bisa tetap bersaing di industri teknologi tinggi ini.

Permintaan akan infrastruktur 5G di pasar global telah meningkat sebagai hasil dari kemajuan teknologi selular. Sejak diluncurkan secara komersial pada awal 2019, 5G telah mencakup tiga jenis layanan utama yang saling terhubung, yaitu IoT (Internet of Things), broadband selular, dan komunikasi kritis.

Kehadiran 5G akan meningkatkan sekaligus memajukan pengalaman selular dengan pengurangan latensi, biaya per bit rendah, kecepatan data yang konsisten dan lebih tinggi. Segmen lain, yakni game real time, AR, VR, dan MR akan berdampak besar karena penerapan 5G.

Dengan hanya melibatkan segelintir pemain besar, struktur pasar industri jaringan cenderung bersifat oligopolis. Karena pemainnya tidak banyak, itu berarti semua vendor memiliki kesempatan yang sama untuk meraih kontrak 5G di seluruh dunia.

Dalam kajian terbaru dari lembaga riset TrendForce, Huawei diperkirakan akan memimpin pasar mobile base station 5G global pada tahun ini dengan total pangsa 28,5%, naik dari 27,5% dibandingkan 2019.

Posisi kedua diduduki oleh vendor Swedia Ericsson, dengan pangsa pasar 26,5%. Namun perolehan itu turun dari pangsa pasar global sebesar 30% pada 2019.

Vendor asal Finlandia, Nokia diperkirakan hanya mencapai 22% pada 2020, turun dari 24,5%. Begitu pun dengan vendor China ZTE diprediksi meraih pangsa pasar 5% tahun ini, turun dari 6,5% dari tahun lalu.

Pertumbuhan pesat justru dinikmati oleh Samsung. Aksi pembatasan oleh AS dan sekutu-sekutunya terhadap Huawei, memberikan keuntungan bagi Samsung yang sebelumnya masih disebut sebagai anak bawang di industri jaringan. TrendForce memperkirakan, chaebol Korea itu mampu meningkatkan pangsa pasar jaringan 5G global, dari 6,5% tahun lalu menjadi 8,5% pada 2020.

Merujuk pada laporan TrendForce itu, berdasarkan skala dan kehadiran pasar yang sangat signifikan, terlihat jelas bahwa Ericsson dan Huawei bersaing ketat dalam memperebutkan pasar 5G global yang mulai tumbuh secara massif sejak tiga tahun terakhir.

Seperti apa rivalitas keduanya dalam memperebutkan pasar jaringan 5G? Mari kita kulik kekuatan dan juga kelemahan kedua vendor terdekat itu.

Ericsson

Bagi Ericsson, menjadi vendor terbesar di industri 5G, menjadi salah satu pembuktian bahwa perusahaan-perusahaan Eropa masih menjadi kiblat dari industri selular dunia.

Seperti kita ketahui, pasar jaringan telekomunikasi sebelumnya identik dengan vendor-vendor Eropa, khususnya negara-negara Skandinavia. Selama bertahun-tahun, pemain seperti Ericsson, Nokia, Alcatel Lucent (almarhum), Siemens (almarhum) telah menguasai bisnis jaringan sejak era 1G dan 2G.

Namun transisi teknologi ke 3G dan kemudian berlanjut ke 4G, mengubah peta pasar. Dimotori oleh Huawei dan ZTE, vendor China semakin agresif. Strategi harga lebih murah dibandingkan para pesaing, membuat pamor vendor-vendor China dengan cepat melejit.

Wajar jika akhirnya mereka mampu meraih kontrak di banyak negara, baik Asia Pasifik, Afrika, Eropa, AS, Australia, hingga Amerika Latin. Alhasil, dengan memanfaatkan peluang pertumbuhan 4G, hanya dalam satu dekade kemudian, Huawei mampu melibas Ericsson dan Nokia.

Berdasarkan laporan Dell’Oro Group, hingga semester pertama 2020, lima vendor jaringan teratas ditempati Huawei, Nokia, Ericsson, ZTE dan Cisco.

Meski tengah dalam tekanan AS, sebagai market leader, pangsa pasar Huawei justru meningkat menjadi 31% dari 28% pada tahun lalu.

Nokia turun dari 16% tahun lalu menjadi 14%. Sedangkan Ericsson tetap bertahan di 14%. Di sisi lain, market share ZTE meningkat dari 9% tahun lalu menjadi 11%. Vendor asal AS, Cisco turun dari 7% menjadi 6% dalam jangka waktu yang sama.

Meski saat ini pangsa pasar Nokia tidak berbeda dengan Ericsson, namun dari sisi kontrak 5G, Ericsson jauh mengungguli Nokia.

Dalam pernyataan resmi pada Agustus lalu, Ericsson mengumumkan telah meraih perjanjian atau kontrak komersial jaringan 5G ke-100 dengan penyedia layanan komunikasi di seluruh dunia.

Angka tersebut termasuk 58 kontrak yang diumumkan secara publik dan 56 jaringan 5G yang sudah live di lima benua. Sementara Nokia pada Maret 2020, baru meraih 63 kontrak 5G komersial.

Meski telah meraih kontrak 5G secara signifikan, namun bukan rahasia lagi bahwa Ericsson masih terus berjuang secara finansial. Padahal sejak lima tahun terakhir, vendor yang berbasis di Stockholm itu, telah memulai serangkaian pemotongan biaya dalam upaya untuk membalikkan penurunan tajam dalam kinerja keuangan.

Demi menekan lonjakan biaya operasional, perusahaan terpaksa melakukan rasionalisasi hingga 25.000 pekerja di luar Swedia. Perusahaan juga memfokuskan kembali bisnisnya menjelang booming penyebaran teknologi 5G di pasar global.

Namun sejauh ini, kinerja Ericsson masih terbilang turun naik. Tak terkecuali pada tahun ini, saat dunia tengah menghadapi wabah corona. Tercatat pendapatan Ericsson turun sebesar 2% menjadi SEK 49,8 miliar pada Q1 2020 dibandingkan dengan 48,9 miliar pada Q1 2019. Penjualan turun di setiap unit bisnis perusahaan kecuali jaringan, yang mencatat pertumbuhan nol, padahal sebelumnya mengalami peningkatan 10% pada kuartal tahun sebelumnya. Seperti bisnis lainnya, pandemi corona membuat kinerja Ericsson terpangkas.

CEO Ericsson Borje Ekholm, mengatakan bahwa pihaknya berusaha mempertahankan target pendapatan dan laba untuk tahun 2020 dan 2022, meskipun pandemi virus corona telah menyebar ke seluruh dunia.

“Kami tetap memandang positif pada prospek jangka panjang. Meski demikian kuartal kedua kemungkinan akan sedikit lebih lambat dari biasanya karena waktu kontrak strategis dan ketidakpastian yang disebabkan oleh Covid-19,” kata Ekholm.

Walaupun mengharapkan peningkatan 10% di akhir tahun, dan pengeluaran berkelanjutan untuk peluncuran 5G oleh pelanggannya, Ericsson tidak dapat berbuat apa-apa tentang penundaan lelang spektrum di Eropa yang akan menghambat aktivitas bisnisnya di wilayah tersebut.

Salah satu ketidakpastian adalah apakah COVID-19 akan mendorong penyedia layanan di bawah tekanan penjualan untuk mengurangi investasi yang direncanakan di jaringan selular tahun ini.

Di negara-negara yang melakukan lockdown, sebagian besar pertumbuhan lalu lintas data terjadi pada jaringan fixed broadband, dan beberapa operator mungkin tidak lagi melihat 5G sebagai prioritas langsung.

Huawei

Karena tekanan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya,  Huawei telah menghadapi banyak krisis global sejak beberapa tahun terakhir. Namun persoalan geopolitik tidak menghentikan raksasa teknologi China itu untuk menikmati beberapa kesuksesan.

Vendor yang berbasis di Shenzen itu melaporkan pendapatan sebesar 454 miliar yuan (sekitar $ 64,9 miliar) untuk paruh pertama 2020. Tumbuh sekitar 13,1% lebih banyak dibandingkan 2019. Bahkan margin laba bersih meningkat dari 8% menjadi 9,2% selama periode tersebut.

Meskipun Huawei tidak merinci angka-angka yang saat ini belum diaudit, perusahaan yakin pandemi COVID-19 tidak merusak seperti yang terjadi pada perusahaan lain. Teknologi komunikasi dan informasi telah menjadi “alat penting” untuk memerangi virus dan memacu pemulihan ekonomi, kata perusahaan yang berbasis di Shenzen itu.

Bagaimana pun, dampak pandemi membuat kinerja perusahaan sedikit menurun. Pada kuartal 1-2020, Huawei hanya mencatat kenaikan pendapatan 1,4% dari tahun ke tahun.

Pandemi telah memengaruhi seluruh industri selular, menyebabkan perusahaan memperlambat produksi, menutup toko ritel, dan kehilangan beberapa penjualan perangkat. Huawei tampaknya sangat terpukul selama kuartal pertama 2020, ketika pandemi mencapai puncaknya di negara asal perusahaan itu, China.

Perlu dicatat juga bahwa penurunan itu terjadi di tengah tekanan terus-menerus dari AS. Dengan alasan keamanan dan spionase, AS memperpanjang perintah larangan perdagangan terhadap Huawei hingga Mei 2021.

Langkah tegas AS kemudian diikuti oleh Inggris dan Perancis. Kedua negara itu menganulir keputusan sebelumnya yang mengizinkan peralatan Huawei terlibat di bagian non-inti dari jaringan 5G.

Begitu pun dengan Italia. Operator terbesar di negara sphageti itu, Telecom Italia telah mengeluarkan Huawei dari tender peralatan 5G untuk jaringan inti yang sedang dipersiapkan untuk dibangun di Italia dan Brasil.

Bukan tidak mungkin, negara-negara lain Eropa seperti Jerman dan Polandia akan mengikuti jejak yang sama. Padahal, pasar jaringan di kawasan Eropa selama ini menjadi sumber utama pendapatan Huawei.

Huawei telah memproduksi banyak peralatan yang digunakan di jaringan 2G, 3G, dan 4G di Inggris dan Eropa. Vendor dengan logo mirip bunga merah menyala itu, memegang 65% pangsa pasar jaringan akses nirkabel 2G dan 4G untuk operator EE (Everything Everywhere) di Inggris. Huawei juga menempati 50% pangsa pasar jaringan 2G, 3G dan 4G Vodafone, operator selular terbesar di Eropa.

Tak dapat dipungkiri, bahwa hari-hari pertumbuhan pesat yang sebelumnya diraih oleh Huawei mungkin sudah berlalu. Patut dicatat, meskipun perusahaan meraih pertumbuhan 13,1% pada semester pertama 2020, namun pencapaian itu jauh lebih kecil dibandingkan lonjakan pendapatan sebesar 39% yang diraih setahun sebelumnya.

Tak dapat dipungkiri, aksi pemblokiran oleh pemerintah AS membuat Huawei berada dalam tekanan. Ketua rotasi Huawei Eric Xu, mengakui bahwa 2019 adalah tahun paling sulit yang pernah dihadapi perusahaan.

Hal itu diperberat dengan adanya wabah virus corona yang mengganggu rantai pasokan. Xu memperkirakan pada 2020 dampaknya akan lebih keras, sehingga membuat hampir mustahil untuk secara akurat memperkirakan kinerja perusahaan.

Sebelumnya pada Juni 2019, pendiri dan CEO Huawei Ren Zhengfei, memperingatkan bahwa berbagai pembatasan oleh AS akan memangkas hingga USD30 miliar potensi pendapatan selama dua tahun ke depan. Reng pun memprediksi, revenue perusahaan diperkirakan akan anjlok menjadi sekitar US$ 100 miliar pada 2020.

Meski didera virus corona dan sulit keluar dari tekanan AS, Ren menegaskan bahwa hal itu tidak mengurangi upaya perusahaan untuk mengembangkan teknologi sendiri, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor AS.

Itu sebabnya, Ren mengatakan bahwa Huawei akan kembali meningkatkan anggaran riset dan pengembangan (R&D) pada 2020 sebesar $ 5 miliar menjadi lebih dari $ 20 miliar. Angka itu, bakal menempatkan Huawei sebagai perusahaan terbesar kedua di dunia dalam alokasi investasi R&D.

Sekedar diketahui, investasi R&D raksasa teknologi China itu pada 2018 sudah menempati peringkat ke-4 di antara perusahaan teknologi global. Melampaui Microsoft, Apple dan Intel.

Menurut statistik Uni Eropa, investasi litbang Huawei pada 2018 sebesar 101,5 miliar yuan ($ 15,1 miliar). Meninggalkan Samsung, Google, dan Volkswagen.
Sepanjang 2018, perusahaan meraih 721,2 miliar yuan dalam pendapatan penjualan global, menghabiskan 14,1 persen dari total pendapatan untuk anggaran R&D.

Pada 2019, ditengah tekanan yang semakin kuat dari AS dan sekutu-sekutunya, pengeluaran litbang Huawei meningkat 30 persen menjadi CNY131,7 miliar, atau 15,3 persen dari total pendapatan. Tercatat total pengeluaran R&D Huawei dalam sepuluh tahun hingga akhir 2019 sudah melebihi CNY600 miliar.

Investasi sebesar itu diklaim telah membantu Huawei mempertahankan posisi terdepan dalam teknologi 5G. Pada awal Februari 2020, Huawei menyebutkan telah menandatangani 91 kontrak 5G komersial dan mengirimkan lebih dari 600.000 unit antena aktif 5G ke berbagai negara.

Meski Huawei meyakini dapat mengatasi tekanan AS, namun tak dapat dipungkiri bahwa kinerja perusahaan telah melambat. Tanpa akses ke pasar startegis seperti Eropa dan AS, perusahaan mungkin tidak memiliki banyak ruang untuk tumbuh.

Pencapaian pada kuartal pertama 2020, telah menunjukkan hal tersebut. Tercatat pendapatan naik hanya 1,4%, turun tajam dibandingkan peningkatan 39% setahun sebelumnya. Laba bersih di raksasa China itu juga turun hampir 8%, menjadi hanya sekitar $ 1,9 miliar.

Beruntung, Huawei masih dapat mengandalkan pasar domestik. Pasca peluncuran komersial pada Oktober 2019, China saat ini tengah berpacu dengan penyebaran 5G-nya sendiri.

Sebagai pemasok domestik terbesar, Huawei kemungkinan akan menjadi penerima manfaat utama. Perusahaan telah mendapatkan sekitar 58% dari tender China Mobile senilai sekitar $ 5,2 miliar.

Dengan China menargetkan peluncuran sekitar setengah juta mobile base station 5G pada akhir 2020, China Telecom dan China Unicom, dua operator nasional lainnya, diharapkan mengumumkan kontrak multi-miliar dolar pada waktunya.

Namun pencapaian yang luar biasa di dalam negeri tak ada artinya jika pasar global menjadi terbatas. Apa boleh buat, jika AS tidak mengendurkan tekanannya, Huawei terancam jadi “Jago Kandang”.

Categories
Dunia Ponsel

5G Dibawah Kepemimpinan Ericsson

Ericsson berhasil meraih perjanjian atau kontrak komersial jaringan 5G ke-100 dengan penyedia layanan komunikasi. Angka tersebut termasuk 58 kontrak yang diumumkan secara publik dan 56 jaringan 5G yang sudah live di lima benua.

Kontrak Ericsson mencakup Radio Access Network (RAN) dan penerapan Core network, yang dimungkinkan oleh produk dan solusi dari Ericsson Radio System dan portofolio Core network Ericsson.

Ericsson telah menerapkan 5G di pita tinggi, sedang, dan rendah di lingkungan perkotaan, pinggiran kota, dan pedesaan yang berbeda, untuk mendukung pita lebar seluler yang ditingkatkan dan implementasi layanan enhanced mobile broadband serta fixed wireless access. Di beberapa pasar 5G yang sudah lebih maju, penyedia layanan komunikasi menawarkan augmented reality berkemampuan 5G dan layanan virtual reality dalam dunia pendidikan, hiburan, dan gaming.

Categories
Dunia Ponsel

5G Hadir. Sudah Siapkah Anda?

Pandemi COVID-19 saat ini telah menyoroti peran penting jaringan dan konektivitas dalam masyarakat saat ini. Setelah memindahkan hampir semua aktivitas harian kita ke platform online, infrastruktur digital kini menjadi sangat penting untuk memenuhi kebutuhan komunikasi kita, baik untuk keperluan pribadi maupun profesional.

Dalam studi terbaru yang dilakukan oleh Ericsson Consumer Lab, 49% responden dari 11 negara mengindikasikan bahwa 5G dapat memberikan pengalaman yang jauh lebih baik untuk virtual meeting. Sementara 48% berpendapat bahwa 5G bisa menawarkan kapasitas jaringan yang lebih baik dibandingkan 4G. Secara keseluruhan, 44% responden percaya bahwa masyarakat akan mendapat banyak manfaat dari 5G.

Berdasarkan Ericsson Mobility Report terbaru, penyerapan 5G siap untuk mencapai 2,8 miliar pelanggan, mencakup hingga 65 persen dari populasi dunia dan menghasilkan hampir 50 persen dari total traffic data seluler secara global pada tahun 2025. Sementara 5G diperkirakan menyumbang 21 persen dari pelanggan seluler di Asia Tenggara dan Oseania pada tahun 2025.

Dengan kecepatan yang lebih tinggi, latensi sangat rendah dan cakupan dimana-mana, 5G akan menjadi penambah kapasitas jaringan di wilayah metropolitan, membantu operator mengatasi pertumbuhan traffic yang eksplosif, memungkinkan bisnis terhubung melalui wireless, mendorong solusi yang lebih baik dengan biaya lebih rendah, sekaligus menghadirkan keseluruhan pengalaman baru dalam menggunakan internet bagi para konsumen.

Di Indonesia, terdapat populasi pengguna yang paham teknologi yang terus mencari teknologi muktahir setiap hari, dengan rata-rata penggunaan data per smartphone diperkirakan meningkat 10 kali lipat pada perangkat 5G. Selain itu, konsumen juga sudah menunggu 5G. Data dari laporan Ericsson ConsumerLab juga menunjukkan bahwa sekitar setengah dari pengguna smartphone di negara itu, akan berpindah operator jika dalam waktu enam bulan penyedia layanan menyediakan 5G.

Konsumen mengharapkan pengalaman berinternet yang benar-benar baru, dengan pengalaman olahraga dan acara yang imersif dalam panggilan holografik AR dan 3D sebagai dua aplikasi teratas yang ingin disediakan oleh konsumen dalam paket 5G. Sekitar 40% pengguna smartphone di Indonesia percaya bahwa kacamata AR akan menjadi hal yang biasa pada tahun 2025. Sementara 67% mengindikasikan bahwa konektivitas internet 5G di dalam mobil sama pentingnya dengan efisiensi bahan bakar dalam 5 tahun ke depan.

5G yang lebih baik

Saat ini, pemerintah dan operator perlu menjadi pengadopsi awal untuk 5G dan memanfaatkan keunggulan penggerak pertama untuk daya saing negara di masa depan. Kunci penyebaran 5G yang cepat terletak pada akses ke spektrum Bersama dengan penerapan regulasi yang memadai. Teknologi Spectrum Sharing akan memainkan peran penting dalam memperkenalkan 5G di pita-pita yang ada secara ekonomis, serta mencapai cakupan nasional sejak hari pertama. Ini akan memungkinkan penggunaan spektrum yang lebih efisien sekaligus memberikan kinerja pengguna yang Unggul.

Teknologi Spectrum Sharing milik Ericsson tersedia secara umum dan memungkinkan 4G dan 5G diterapkan pada pita frekuensi dan radio 5G yang sama. Hanya diperlukan peningkatan perangkat lunak (software upgrade), menyediakan spektrum secara dinamis berdasarkan permintaan pengguna per 1 milidetik. Dengan demikian, operator tidak perlu “menanam” (re-farm) spektrum kembali sebelum menerapkan teknologi ‘G’yang terbaru ini. Mereka dapat menerapkan 5G dengan cepat melalui sistem yang sama dengan 4G saat ini, serta membuka jalan untuk migrasi jaringan secara lancar, cepat dan hemat biaya.

Sebagai pemimpin teknologi dengan 100 perjanjian komersial dan 56 jaringan live di lima benua, Ericsson telah mencapai tonggak interoperabilitas di semua pita frekuensi utama 5G. Hadir di Indonesia, selama lebih dari 100 tahun, Ericsson telah membantu mewujudkan teknologi ini secara komersial, mulai dari kemitraan awal serta uji coba jaringan dengan tiga operator telekomunikasi besar Indonesia, Indosat Ooredoo, Telkomsel dan XL Axiata.

5G dirancang untuk inovasi, berbeda dari generasi konektivitas selular sebelumnya yang berfokus pada komunikasi interpersonal dan kecepatan data. 5G akan mendefinisikan kembali cara orang berinteraksi, cara masyarakat berfungsi dan cara melakukan bisnis, sehingga mendorong perkembangan ekonomi secara massif. Seiring dengan perkembangan 5G, operator di Indonesia akan mendapatkan keuntungan dengan menjadi yang terdepan dan dengan menggunakan teknologi yang tepat untuk memberikan layanan baru yang inovatif dan lebih cepat kepada konsumen, serta industri.

Categories
Dunia Ponsel

XL Axiata Implementasikan Teknologi Cloud Core 5G-Ready dari Ericsson

Ericsson telah dipilih oleh XL Axiata untuk mengimplementasikan solusi teknologi cloud core 5G-ready di Kawasan Timur Indonesia. Kerjasama ini meliputi solusi Cloud Packet Core Ericsson dan Network Functions Virtualization Infrastructure (NFVI).

Berdasarkan laporan Ericsson Mobility Report edisi Juni 2019, rata-rata penggunaan data tiap smartphone di Indonesia diperkirakan akan meningkat hingga 10 kali lipat dengan perangkat 5G di Indonesia. Solusi dari Ericsson mendukung XL Axiata dalam mempersiapkan peningkatan trafik data tersebut, menyederhanakan operasi dan menjamin pendapatan dari layanan 5G.

Ericsson Cloud Packet Core meliputi aplikasi terdepan di pasar, seperti Evolved Packet Gateway, memungkinkan arsitektur jaringan inti (core network) terdistribusi serta meningkatkan kinerja jaringan dalam persiapan menuju 5G.

Ditambah dengan NFVI, jaringan inti terbaru ini akan mendukung XL Axiata dengan solusi terbuka dan fleksibel, yang memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan teknologi-teknologi baru dengan kustomisasi bawaan dan inovasi baru. Hal ini akan mendukung pengenalan layanan terbaru dan membantu memperkaya pengalaman pengguna, seraya tetap memberikan pelayanan maksimal.

“Penggunaan layanan data di Indonesia tumbuh pesat dan pengguna selalu mencari teknologi tercanggih setiap saat. Dengan menggunakan solusi Cloud Packet Core, yang canggih, kami akan tetap menjadi pemimpin teknologi dan mampu memenuhi permintaan pengguna yang terus meningkat. Bagi kami, Ericsson adalah salah satu mitra jaringan penting dan kami yakin implementasi ini akan meningkatkan kualitas kinerja jaringan kami,” ujar Yessie D. Yosetya, Chief Technology Officer, XL Axiata.

Jerry Soper, Country Head of Ericsson Indonesia menyatakan, “Ericsson adalah pemimpin pasar Evolved Packet Core virtual dan NFVI dalam beberapa tahun terakhir. Kematangan penerapan software kami, stabilitas kinerja operasional serta kemampuan pengiriman lokal kami yang luar biasa, menjadi faktor penting bagi XL Axiata dalam memilih kami sebagai penyedia solusi terbaik. Kerjasama ini adalah bukti kepemimpinan Ericsson dalam hal Packet Core serta menunjukkan komitmen kami untuk bekerja bersama XL Axiata dalam menghadirkan layanan 5G.”

Baca juga : Ericsson: Pengguna 5G Capai 190 Juta pada Akhir 2020

Ericsson adalah pemimpin teknologi global dan telah hadir di Indonesia selama lebih dari satu abad, menghadirkan konektivitas seluler bagi semua generasi, termasuk 4G, dan uji coba langsung 5G terbaru bersama XL Axiata. Sebagai platform penting untuk 5G Core, Cloud Packet Core dan solusi NFVI Ericsson akan mendukung XL Axiata dalam membangun landasan kuat bagi jaringan 5G dan memastikan implementasi cepat dari use cases pada masa mendatang untuk masyarakat dan pelaku industri.

Saat ini, Cloud Packet Core Ericsson sedang mengembangkan aplikasi EPC virtual. Ericsson berdedikasi untuk mendukung pelanggan kami sehingga dapat dengan mulus melakukan evolusi dari EPC menjadi operasi mode ganda 5G Cloud Core, 5G EPC dan 5G Core (5GC), dan dengan demikian menjamin fleksibilitas, kecepatan waktu untuk dipasarkan dan efisiensi dalam operasi.

Solusi NFVI Ericsson memungkinkan operator untuk mengimplementasikan telekomunikasi virtual, OSS, BSS, IT dan aplikasi pada media dengan kecepatan penuh dan total tarif kepemilikan rendah. Untuk mulai menerapkan aplikasi berbasis teknologi cloud dengan cepat dan berisiko rendah, kami menyediakan solusi terjamin dan terintegrasi dengan edge computing dan kemampuan pengelolaan kontainer.