Categories
Dunia Ponsel

Sony dan Kioxia Ajukan Permohonan ke AS

Sony Corp Jepang dan pembuat chip memori Kioxia Holdings Corp telah mengajukan permohonan persetujuan AS untuk terus memasok Huawei Technologies Co Ltd, Nikkei melaporkan pada hari Minggu (4/10).

Jika dikonfirmasi, langkah tersebut mengikuti perusahaan teknologi lain seperti Intel Corp yang baru-baru ini menerima lisensi dari otoritas AS.

Huawei adalah salah satu pelanggan teratas untuk sensor gambar Sony untuk smartphone. Kioxia Holdings Corp adalah pembuat chip memori flash No. dua di dunia dan juga pemasok utama Huawei. Tanpa lisensi AS, Sony dan Kioxia akan menghadapi risiko atas penghasilan mereka .

Kioxia memperingatkan bahwa pembatasan AS pada Huawei dapat memicu kelebihan pasokan chip memori dan menurunkan harga. Perusahaan baru-baru ini mengesampingkan rencana untuk daftar multi-miliar dolar karena ketegangan AS-China menutupi pasar chip global.

Seorang juru bicara Sony mengatakan perusahaan itu mematuhi semua peraturan, tetapi tidak dapat mengomentari klien tertentu. Namun juru bicara Kioxia menolak berkomentar, Nikkei menambahkan.

Sebelumnya Intel dipastikan menjadi vendor pertama yang secara terbuka menyatakan telah diberikan lisensi khusus dari pemerintah AS untuk terus memasok peralatan tertentu ke Huawei, setelah pembatasan diperketat pada vendor China itu pada 15 September 2020.

Sejumlah pembuat chip lainnya termasuk Qualcomm, Micron Technology, Samsung, SK Hynix, Macronix International, MediaTek dan Semiconductor Manufacturing International Corp (SMIC) juga dikabarkan telah mengajukan permohonan penangguhan hukuman tersebut. Namun selain Intel, sejauh ini belum ada pembaruan mengenai status aplikasi mereka.

Huawei, pemasok perangkat telekomunikasi terbesar di dunia dan produsen smartphone terbesar kedua ini, mengandalkan komponen-komponen utama dari beberapa perusahaan teknologi AS. Tahun lalu, Huawei membeli komponen dan suku cadang senilai US$70 miliar dari 13.000 pemasok.

Dari total tersebut sebesar US$11 miliar atau setara Rp156,2 triliun (US$1 = RP 14.200) dihabiskan untuk produk dari perusahaan AS, termasuk chip komputer dari Qualcomm dan Broadcom, serta perangkat lunak Microsoft dan Google Android Google. Pendapatan sebesar itu, terancam menguap akibat keputusan Presiden Donald Trump yang menganggap Huawei sebagai ancaman keamanan AS dan global.

Categories
Dunia Ponsel

Pertimbangan Penerapan Jaringan 5G Menurut Duan Xiaowei

Duan Xiaowei, selaku Wireless Solution Architect ZTE menjelaskan penerapan 5G memiliki dua opsi arsitektur, standalone (SA) dan non-standalone (NSA). Kematangan arsitektur NSA dapat menjadi keuntungan bagi first-mover, namun keuntungan tersebut hanya berlaku bagi layanan  enhanced Mobile Broadband (eMBB) dan melibatkan penggabungan yang kompleks dengan jaringan 4G. Sedangkan SA, sebagai jaringan target akhir 5G, memiliki keunggulan dalam mendukung layanan baru, jangkauan, kinerja, fleksibilitas jaringan, dan efisiensi energi terminal. Saat ini, perhatian utama operator terhadap arsitektur SA mencakup cakupan jaringan, terminal SA, dan kematangan 5GC.

ZTE percaya bahwa kapabilitas cakupan stasiun pangkalan 5G dan investasi jaringan 5G operator merupakan faktor utama dalam memilih SA atau NSA.

Setelah jumlah  antena, saluran transceiver independen, dan daya pancar AAU 5G ditentukan,cakupan stasiun pangkalan 5G bergantung pada pita frekuensi 5G yang tersedia, kompleksitas lingkungan nirkabel, dan persyaratan kinerja untuk layanan 5G, terutama tingkat akses cell-edge Sementara, tingkat akses cell-edge bergantung pada persyaratan kinerja jaringan minimum layanan 5G.

Berdasarkan prinsip diatas, jika operator hanya memiliki spektrum gelombang milimeter untuk konstruksi 5G maka akan lebih tepat memilih arsitektur NSA, karena gelombang milimeter memiliki kemampuan difraksi yang lebih rendah dibandingkan pita 1,8 GHz atau 2,6 GHz.

Baca juga :  PowerPilot, Solusi Hemat Energi 5G

Jika operator  dapat memperoleh spektrum arus utama 3,5 GHz, memiliki persyaratan tingkat akses cell-edge yang layak, misalnya downlink 50 Mbps (mendukung video 2K / 4K HD dan aplikasi AR), up link 2 Mbps (mendukung unggahan video 720p) dan juga memiliki investasi yang cukup untuk membangun 5G yang berkelanjutan di daerah perkotaan yang padat, maka SA adalah mode konstruksi jaringan yang sesuai.

 

Data uji lapangan ZTE menunjukkan bahwa perkotaan padat  dapat mencapai cakupan 5G melalui penyebaran 4G / 5G dengan jarak  lebih dari 400 meter, sejumlah pemancar makro atau mikro 5G yang sesuai dapat ditambahkan untuk memenuhi persyaratan kecepatan data uplink sebesar 2 Mbps.

Memaksimalkan Nilai Infrastruktur

Selain arsitektur jaringan, cara memperkenalkan 5G melalui peralatan RAN high-density juga merupakan tantangan besar bagi operator. Saat ini, mayoritas operator memiliki multi band (seperti 900 MHz, 1,8 GHz, 2,1 GHz, dan 2,6 GHz) dan beberapa standar (GSM, UMTS, LTE, dan NB-IoT) di situs yang sama, dan sangat umum bagi beberapa operator untuk berbagi infrastruktur.

Sebagian besar situs memiliki penyebaran antena dan RRU yang padat, sehingga sulit untuk menambahkan 5G AAU. Membangun situs baru juga dapat menghadapi beberapa masalah seperti akuisisi lokasi yang sulit, biaya investasi yang tinggi, dan periode konstruksi yang lama.

Pemanfaatan antena pasif multi-band, multi-port, antena hybrid aktif + pasif, dan RRU ultra-wideband merupakan cara tepat untuk menyelesaikan masalah ruang pemasangan antena yang sempit di stasiun pangkalan makro.

Operator dapat mengkonsolidasikan dan mengoptimalkan beberapa antena dari setiap sektor jaringan yang ada sebelum atau selama konstruksi 5G.

Dengan demikian, ruang  tersebut dapat dipasang 5G AAU, dan setiap sektor hanya akan menggunakan satu atau dua antena multi-band untuk mencakup seluruh pita frekuensi dan standar nirkabel untuk 2G, 3G dan 4G, dan satu antena aktif untuk melayani jaringan 5G. Melalui cara ini, jaringan 5G dapat digunakan tanpa menambahkan situs baru, dan biaya operasi dan pemeliharaan (O&M) multi-jaringan dapat dikurangi.

Mengenai peralatan 5G AAU, ZTE merekomendasikan penggunaan AAU 64T64R di kawasan padat penduduk. AAU 64T64R terdiri dari sejumlah besar saluran transceiver independen, yang dapat mendukung teknik pemrosesan sinyal atau Beamforming horizontal dan vertikal yang akurat pada saat bersamaan, sehingga mencapai peningkatan kapasitas yang ideal di kawasan padat penduduk.  AAU 64T64R memiliki pantulan sinar yang kuat, difraksi, dan kemampuan anti-interferensi. Bahkan, di daerah perkotaan yang padat dengan lingkungan nirkabel yang kompleks, 3,5G NR dapat mencapai jangkauan yang sama dengan 1,8 GHz 2T2R LTE sehingga mampu mengurangi tingkat kesulitan dan biaya penyebaran jaringan 5G.

Sedangkan, AAU 16T16R direkomendasikan untuk kawasan perkotaan dan pinggiran kota dengan jumlah penduduk, kepadatan lalu lintas, dan probabilitas pemasangan MU-MIMO yang  rendah. AAU 16T16R  memiliki rasio kinerja yang lebih tinggi, dan memungkinkan 3,5G NR untuk memiliki cakupan yang sama dengan 1.8G LTE.

Meningkatkan Efisiensi

Di era 5G operator akan menghadapi tantangan jaringan yang kompleks, layanan yang beragam, dan pengalaman yang dipersonalisasi.

Kompleksitas jaringan tercermin dalam koeksistensi beberapa jaringan. Adopsi SDN, NFV, dan Cloud turut mengganggu model O&M jaringan yang sudah dikenal operator. Diversifikasi bisnis tercermin pada kenyataan bahwa 5G melebihi bisnis eMBB dan merambah ke industri vertikal seperti manufaktur, pertanian, smart home, telemedicine dan autopilot. Personalisasi pengalaman tercermin dalam fakta bahwa 5G menyediakan layanan yang disesuaikan dan  berbeda untuk industri atau pengguna tertentu, membangun akses jaringan, analisis data, dan layanan aplikasi yang mencakup proses bisnis pengguna dan memungkinkan manajemen siklus hidup  serta optimasi berkelanjutan dari network slicing yang disesuaikan.

Beberapa tantangan tersebut membutuhkan pengenalan AI untuk meningkatkan efisiensi O&M. Teknologi AI yang diwakili oleh pembelajaran mesin dapat digunakan secara luas dalam alarm jaringan, analisis dasar masalah, cakupan jaringan, pengoptimalan kinerja, prediksi kapasitas jaringan, konstruksi jaringan yang akurat, manajemen energi tingkat jaringan, penjadwalan dinamis sumber daya jaringan cloud, dan network slicing yang cerdas.

Penggunaan tersebut mampu meningkatkan efisiensi O&M jaringan dan mengurangi biaya O&M jaringan. Penerapan AI dapat dikategorikan menjadi peralatan situs cerdas, O&M cerdas, mesin cloud edge cerdas, serta perencanaan dan pengoptimalan jaringan cerdas.

Categories
Dunia Ponsel

Nokia Dapat 100 Kontrak 5G Komersial

Nokia mengumumkan telah mencapai 100 kesepakatan 5G komersial secara keseluruhan, setelah menambahkan 17 perjanjian baru sepanjang Q3-2020, menyegel kemenangan besar di Inggris dan Finlandia sambil melihat peningkatan daya tarik di antara pelanggan perusahaan.

Dalam sebuah pernyataan, Nokia mengatakan perjanjian baru itu memvalidasi kemajuannya dalam memperkuat portofolio produk radio selular saat transisi ke 5G terus berlanjut. Selain 100 kesepakatan komersial dengan pelanggan individu, Nokia mengatakan memiliki total 160 “keterlibatan 5G komersial”, termasuk uji coba berbayar.

Minggu ini, perusahaan juga menandatangani kesepakatan baru dengan BT Inggris, sekaligus memperbarui perjanjian 5G yang sebelumnya sudah ditandatangani dengan operator Elisa di Finlandia.

Kesepakatan perusahaan terdiri dari 12 persen dari totalnya, dengan penerapan nirkabel pribadi baru-baru ini termasuk Deutsche Bahn, Toyota Production Engineering dan Sandvik.

Perusahaan mengharapkan pertumbuhan lebih lanjut di segmen perusahaan, menambahkan portofolio yang memiliki 180 pelanggan nirkabel swasta, banyak di antaranya diharapkan untuk bermigrasi ke 5G.

Kemenangan Nokia baru-baru ini terutama di Inggris, tidak diragukan lagi akan memberikan dorongan bagi perusahaan, setelah kehilangan beberapa tender profil tinggi awal tahun ini, terutama di pasar China.

Pada Mei lalu Nokia dibekukan dari dua tender 5G senilai hampir $ 10 miliar di China, pasar telekomunikasi terbesar di dunia yang mempercepat peluncuran 5G, saat sebagian besar negara lain mengurangi penyebaran karena pandemi Covid-19. Terkecuali Nokia, empat vendor jaringan masing-masing ZTE, Huawei, Datang Mobile, Ericsson kebagian kontrak 5G dari tiga operator selular China.

Pengumuman 100 kesepakatannya juga sangat tertinggal di belakang saingan Eropa Ericsson. Vendor asal Swedia itu mengatakan telah mencapai kontrak sebanyak itu pada Agustus lalu.

Selain vendor mapan Ericsson dan Huawei, Nokia juga menghadapi persaingan dari pemain lain seperti Samsung yang sebelumnya tidak diperhitungkan. Rakasasa asal Korea Selatan itu baru-baru ini mencapai kesepakatan untuk membangun jaringan 5G berskala besar dengan operator AS Verizon.

Meski menghadapi tantangan yang semakin ketat dengan pesaing-pesaing terdekatnya, tak diragukan lagi bahwa tercapainya 100 kontrak 5G memberikan tambahan energi bagi Nokia. Pencapaian itu juga membuktikan perubahan kepemimpinan di Nokia berdampak positif.

Seperti diketahui, pada Agustus lalu Nokia mengumumkan naiknya Pekka Lundmark, sebagai CEO baru menggantikan Rajeev Suri. Walaupun menghadapi tantangan yang tak ringan, mengingat kinerja Nokia yang menurun sejak beberapa tahun terakhir, namun Pekka diuntungkan dengan situasi pelik yang kini dialami oleh Huawei.

Meningkatnya resistensi atau penolakan dari banyak negara karena tekanan AS, kemungkinan akan mendorong banyak operator selular untuk menghindari vendor China dalam tender 5G mereka yang akan datang. Kondisi tersebut jelas memberikan peluang besar bagi Nokia, mengingat industri jaringan hanya didominasi oleh segelintir vendor saja.

Categories
Dunia Ponsel

Nokia Dapat Kontrak Terbesar Jaringan 5G Inggris

Nokia memenangkan kontrak baru dengan BT (British Telecom) untuk memasok kit RAN 5G, di samping melakukan peningkatan pada peralatan 2G dan 4G yang ada, sejalan dengan upaya operator menghapus Huawei dari jaringan unit selular, EE (Everything Everywhere).

Dalam pengumumannya, Nokia memuji kesepakatan baru tersebut sebagai pemasok infrastruktur terbesar di Inggris untuk jaringan tetap dan selular.

Selain memasok kit radio 5G, kontrak tersebut mencakup pengoptimalan jaringan 2G dan 4G yang dimiliki BT. Nokia telah memasok peralatan RAN di seluruh teknologi dan juga merupakan pemasok 3G utama bagi BT. Perusahaan juga akan bekerja sama dalam pengembangan RAN terbuka, tambah Nokia.

Kontrak perjanjian dengan BT menjadi dorongan bagi Nokia, yang kalah dalam sejumlah tender 5G profil tinggi tahun ini, terutama di China. Vendor juga menghadapi tekanan dari Samsung karena terus memperluas bisnis jaringannya di beberapa pasar utama yang selama ini dikuasai Nokia, seperti Amerika Utara.

Kesepakatan Nokia kemungkinan akan menjadi pukulan bagi saingannya Ericsson yang, segera setelah keputusan pemerintah Inggris untuk melarang Huawei, tidak membuang waktu untuk menyatakan diri siap melangkah ke dalam kekosongan yang ditinggalkan oleh vendor China tersebut.

Menyusul tekanan dari AS dan perselisihan politik, pemerintah Inggris telah melarang penggunaan peralatan Huawei di jaringan 5G pada Juli lalu. Operator setempat diberikan waktu hingga 2027 untuk menghilangkan perangkat yang ada.

Awal tahun ini BT mendaftarkan Ericsson untuk memasok jaringan intinya saat mulai mengeluarkan peralatan Huawei dari mengikuti spekulasi lanjutan tentang peran masa depan yang terakhir di pasar jaringan Inggris.

Selain Nokia dan Ericsson, pemerintah Inggris juga telah mengadakan pembicaraan dengan raksasa elektronik Jepang NEC tentang upaya penyediaan peralatan 5G untuk jaringan selular, sebagai bagian dari dorongan yang lebih luas demi mengurangi ketergantungan mereka terhadap teknologi China.

Begitu pun dengan Samsung Electronics. Inggris memberi kesempatan kepada chaebol Korea untuk berpartisipasi dalam pembangunan jaringan 5G.

Namun untuk saat ini, Nokia telah mendapatkan keistimewaan dengan keputusan BT memilih vendor asal Finlandia itu untuk membangun jaringan 5G di berbagai wilayah Inggris.

Categories
Dunia Ponsel

Samsung Siapkan Smartphone 5G Termurah dengan Snapdragon 750G

Awal bulan ini, Samsung mengumumkan smartphone Galaxy A42 5G, yang disebut-sebut sebagai smartphone berkemampuan 5G termurah. Namun, saat itu perusahaan tidak mengungkap semua spesifikasi handset tersebut, terutama prosesornya.

Namun belakangan laporan oleh Dealntech, mengindikasikan bahwa perangkat tersebut akan didukung oleh chipset terbaru Snapdragon 750G dari Qualcomm.

Sekedar pengingat, Galaxy A42 diluncurkan sebagai penerus Galaxy A41 – bersama dengan Galaxy A42 5G bersama dengan Galaxy Tab A7 dan pengisi daya nirkabel Trio.

Dalam hal spesifikasi, perusahaan telah mengkonfirmasi bahwa perangkat tersebut akan menawarkan layar Super AMOLED 6,6 inci dengan takik tetesan air dan pengaturan kamera belakang quad. Dari segi desain, smartphone diatur untuk menampilkan panel tekstur cetak warna ganda.

Sebagai teknologi baru, smartphone 5G tentu masih membutuhkan pijakan sebelum menjangkau pasar yang lebih luas. Persoalannya saat ini konsumen dihadapkan pada line up yang terbilang masih terbatas. Hingga kuartal pertama 2020, rata-rata vendor hanya memiliki kurang dari lima smartphone 5G.

Persoalan utama lainnya adalah menyangkut harga. Dengan harga rata-rata di atas 15 – 30 juta, smartphone 5G terbilang mahal untuk kantung orang kebanyakan. Alhasil, kehadiran smartphone 5G dengan harga terjangkau menjadi dambaan.

Meskipun ada beberapa seri smartphone 5G dengan harga paling terjangkau, yakni sekitar CNY2.000 atau USD290 (Rp3,9 juta), namun harga rata-rata untuk perangkat dengan dukungan jaringan tercepat ini sekitar CNY3.000 atau USD430 (Rp5,8 juta) atau lebih tinggi.

Itu sebabnya, seiring dengan meningkatnya pembangunan jaringan 5G, vendor saat ini berlomba merilis jajaran smartphone dengan harga yang tak bikin kantung konsumen bolong-bolong. Tak terkecuali dengan Samsung.

Meski dibayangi kedigdayaan Huawei yang semakin meraksasa di pasar domestik, Samsung berusaha keras untuk menjadi pemain terdepan di pasar smartphone 5G. Raksasa Korsel itu berencana merilis smartphone 5G dengan harga yang ramah di kantung konsumen.

Sebelumnya di ranah 5G, hingga kuartal pertama 2020, Samsung telah merilis enam handset. Masing-masing Galaxy Fold, Galaxy S10 5G, Galaxy Note10 5G, Galaxy Note10+ 5G, Galaxy A90 5G, dan Galaxy A71 5G.

Di pasar AS, harga jual Galaxy A51 5G adalah $499,99 (Rp7,7 juta) dan Galaxy A71 5G dibanderol $599,99 (Rp9,2 juta). Jika dibandingkan dengan smartphone 5G pertama dari Samsung yakni Galaxy S10 5G yang dibanderol $1299 (Rp20 juta), vendor yang berbasis di Seoul itu, sudah memangkas harga kedua smartphone 5G-nya sebesar 62 persen.

Kini dengan kehadiran Galaxy A42 5G, smartphone 5G dengan harga paling terjangkau, Samsung mencoba menjangkau pasar masal dengan teknologi terbaru. Selain upaya meneguhkan posisi sebagai vendor terdepan dalam teknologi 5G, langkah ini diambil Samsung agar bisa kembali bangkit selepas pandemi Covid-19 yang membuat produksi handset Samsung turun drastis. Sekaligus berusaha rebound di sisa akhir 2020.

Categories
Dunia Ponsel

ROG Phone 3 Resmi Rilis , Ini Harganya di Indonesia

Smartphone gaming yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba di Indonesia. Kamis sore (24/9) Asus resmi memperkenalkan ROG Phone 3 untuk para mobile gamer sejati tanah air.

Di Indonesia, ROG Phone 3 telah tersedia dalam dua varian yaitu model yang menggunakan penyimpanan 128GB dan RAM 8GB, serta penyimpanan 256GB dan RAM 12GB.

  • Asus ROG Phone 3 dengan RAM 8GB penyimpanan 128GB dibanderol dengan harga Rp9.999.000
  • Asus ROG Phone 3 dengan RAM 12GB penyimpanan 256GB dibanderol dengan harga Rp14.999.000

Terlebih, ROG Phone 3 juga merupakan smartphone gaming pertama di Indonesia yang ditenagai oleh Qualcomm Snapdragon 865 Plus 5G Mobile Platform, SoC paling powerful saat ini.

“Dengan segudang peningkatan dari generasi sebelumnya, ROG Phone 3 dipastikan akan menjadi perangkat andalan para hardcore mobile gamer di Indonesia sebagai senjata utama dalam setiap pertempuran,” ujar Jimmy Lin, ASUS Regional Director Southeast Asia, pada acara peluncurannya yang disiarkan secara live streaming, Kamis (24/9).

“Qualcomm Snapdragon 865 Plus 5G Mobile Platform akan membawa pengalaman gaming premium kepada para pengguna ROG Phone 3, dengan hadirnya berbagai fitur gaming premium, termasuk Snapdragon Elite Gaming, yang membuat smartphone ini menjadi dambaan setiap gamer casual atau professional,” ungkap ST Liew, Vice President, Qualcomm CDMA Technologies Asia-Pacific Pte. Ltd., and President, Qualcomm Taiwan corporation.

Tidak hanya dibekali oleh SoC terbaik, ROG Phone 3 juga dibekali dengan sistem pendingin baru yang lebih canggih dari pendahulunya. Sistem pendingin bernama GameCool 3 tersebut memungkinkan ROG Phone 3 untuk dapat menemani kegiatan gaming penggunanya seharian tanpa kendala dalam performa.

Layar berukuran 6,59 inci dengan refresh rate 144Hz, touch latency 25ms, dan response time 1ms adalah senjata utama para gamer yang menggunakan ROG Phone 3.

Ditambah tingkat reproduksi warna yang akurat dengan Delta E kurang dari satu poin membuat gamer tidak hanya dapat bereaksi secara cepat dan akurat, tetapi juga merasakan dunia game yang lebih imersif. Dukungan teknologi 10-bit display dan HDR10+ di ROG Phone 3 membuat smartphone ini terbaik untuk gaming tetapi juga untuk menikmati konten multimedia terkini.

Sama seperti pendahulunya, perangkat kembali hadir dengan baterai berkapasitas super besar yaitu 6.000mAh. ROG Phone 3 juga hadir dengan fitur AirTrigger 3 terbaru yang kini dilengkapi dengan motion sensor untuk kontrol yang lebih intuitif saat bermain game. Seluruh kontrol yang ada di AirTrigger 3 dapat diprogram dan diatur sesuai dengan kebutuhan pengguna.

Kinerja Powerful

ROG Phone 3 hadir dengan gabungan konektivitas ultra-cepat 5G dan WiFi 6. Tidak hanya itu, perangkat telah didukung memori LPDDR5 hingga 12GB dan penyimpanan ultra-cepat UFS 3.1 ROM berkapasitas hingga 256GB juga membuat ROG Phone 3 unggul dari semua smartphone yang ada di pasar saat ini.

ASUS juga kembali menghadirkan fitur X Mode di ROG Phone 3 yang kini hadir dengan kustomisasi dan parameter baru sehingga dapat disesuaikan dengan berbagai skenario game. ASUS bahkan menghadirkan pengaturan optimal pada X Mode yang akan bekerja secara optimal di berbagai game sehingga pengguna kini lebih mudah untuk menikmati performa tanpa kompromi di ROG Phone 3.

ROG Phone 3 hadir dengan sistem pendingin GameCool 3 yang dilengkapi 3D Vapor Chamber dengan desain baru. GameCool 3 hadir dengan heatsink yang lebih besar dari sistem pendingin generasi sebelumnya. Untuk performa pendinginan yang lebih baik, Asus juga menyediakan AeroActive Cooler 3.

Selain dilengkapi dengan konektivitas seluler terbaru dan WiFi 6, ROG Phone 3 hadir dengan fitur terbaru bernama ROG HyperFusion Technology. Fitur tersebut memungkinkan gamer untuk menggabungkan 5G dengan WiFi 6 secara bersamaan untuk menghasilkan konektivitas terbaik saat bermain game ataupun menikmati konten digital lainnya.

Visual Cemerlang

ROG Phone 3 dilengkapi layar kencang dengan refresh rate 144Hz dan response time 1ms. Layar yang digunakan juga mendukung teknologi 10-bit display dan HDR10+ bahkan mengadopsi layar dengan nilai Delta E<1 yang artinya warna dapat ditampilkan dengan sangat akurat.

Untuk meminimalisir efek mata lelah saat digunakan, ROG Phone 3 juga sudah mengantongi sertifikasi dari TÜV Rheinland untuk kategori pengujian Low Blue Light dan Flicker Reduced.

Layar ROG Phone 3 sudah hadir dengan touch latency hanya 25ms, lebih kencang dari generasi sebelumnya. Touch latency yang rendah memungkinkan sistem mengenali input sentuhan lebih cepat dan berpengaruh langsung pada performa gaming secara keseluruhan.

Fitur AirTrigger juga kembali hadir dengan fitur baru. AirTrigger 3 kali ini memiliki tambahan gesture baru yang dapat digunakan saat bermain game termasuk swipe dan dual-partition button emulation yang memungkinkan penggunanya memiliki kontrol penuh terhadap semua game yang dimainkan.

ROG Phone 3 juga memiliki motion sensor yang dapat digunakan sebagai kontrol tambahan. Motion Sensor memungkinkan gamer berinteraksi dengan cara menggerakkan smartphone ke depan dan belakang. Sama seperti AirTrigger 3, motion sensor juga dpat diprogram untuk dapat disesuaikan dengan game yang sedang dimainkan.

ROG Phone 3 kembali menggunakan side-mounted USB-C sebagai fasilitas untuk mengkoneksikan aksesoris sekaligus charger. Aksesoris seperti AeroActive Cooler 3 dapat dipasang melalui port khusus tersebut dan menawarkan konektivitas ekstra berupa 3.5mm audio jack dan konektor untuk pengisian daya.

Aksesori ROG Phone 3

Sama seperti pendahulunya, ROG Phone 3 kembali hadir dengan sederet aksesori gaming yang dapat meningkatkan pengalaman bermain para gamer di Indonesia. Gamer yang telah memiliki aksesori ROG Phone 2 pun tidak perlu khawatir karena sebagian besar dapat digunakan di ROG Phone 3.

Berikut adalah aksesori terbaru yang menemani ROG Phone 3: ROG Kunai 3 Gamepad, TwinView Dock 3, ROG Clip, AeroActive Cooler 3, Lighting Armour Case, Glass Screen Protector, dan Waist Pack dan Crossbody Pack.

Harga

ROG Phone 3 telah tersedia di Indonesia di sejumlah mitra e-commerce dalam dua varian dan dibanderol dengan harga Rp9.999.000 (128/8) dan Rp14.999.000 (256/12).

Categories
Dunia Ponsel

Ericsson Vs Huawei: Siapa yang Menjadi Juara 5G?

Ada banyak pemain di bisnis infrastruktur nirkabel. Namun terdapat empat vendor besar, yakni Ericsson, Nokia, Huawei dan ZTE. Sejak beberapa tahun terakhir, vendor-vendor itu bersaing ketat memperebutkan pasar terbesar di jaringan 5G.

Kita ketahui, 5G akan menjadi standar baru teknologi selular masa depan. Sehingga memenangkan kontrak 5G, menjadi wajib hukumnya bagi vendor penyedia jaringan, agar bisa tetap bersaing di industri teknologi tinggi ini.

Permintaan akan infrastruktur 5G di pasar global telah meningkat sebagai hasil dari kemajuan teknologi selular. Sejak diluncurkan secara komersial pada awal 2019, 5G telah mencakup tiga jenis layanan utama yang saling terhubung, yaitu IoT (Internet of Things), broadband selular, dan komunikasi kritis.

Kehadiran 5G akan meningkatkan sekaligus memajukan pengalaman selular dengan pengurangan latensi, biaya per bit rendah, kecepatan data yang konsisten dan lebih tinggi. Segmen lain, yakni game real time, AR, VR, dan MR akan berdampak besar karena penerapan 5G.

Dengan hanya melibatkan segelintir pemain besar, struktur pasar industri jaringan cenderung bersifat oligopolis. Karena pemainnya tidak banyak, itu berarti semua vendor memiliki kesempatan yang sama untuk meraih kontrak 5G di seluruh dunia.

Dalam kajian terbaru dari lembaga riset TrendForce, Huawei diperkirakan akan memimpin pasar mobile base station 5G global pada tahun ini dengan total pangsa 28,5%, naik dari 27,5% dibandingkan 2019.

Posisi kedua diduduki oleh vendor Swedia Ericsson, dengan pangsa pasar 26,5%. Namun perolehan itu turun dari pangsa pasar global sebesar 30% pada 2019.

Vendor asal Finlandia, Nokia diperkirakan hanya mencapai 22% pada 2020, turun dari 24,5%. Begitu pun dengan vendor China ZTE diprediksi meraih pangsa pasar 5% tahun ini, turun dari 6,5% dari tahun lalu.

Pertumbuhan pesat justru dinikmati oleh Samsung. Aksi pembatasan oleh AS dan sekutu-sekutunya terhadap Huawei, memberikan keuntungan bagi Samsung yang sebelumnya masih disebut sebagai anak bawang di industri jaringan. TrendForce memperkirakan, chaebol Korea itu mampu meningkatkan pangsa pasar jaringan 5G global, dari 6,5% tahun lalu menjadi 8,5% pada 2020.

Merujuk pada laporan TrendForce itu, berdasarkan skala dan kehadiran pasar yang sangat signifikan, terlihat jelas bahwa Ericsson dan Huawei bersaing ketat dalam memperebutkan pasar 5G global yang mulai tumbuh secara massif sejak tiga tahun terakhir.

Seperti apa rivalitas keduanya dalam memperebutkan pasar jaringan 5G? Mari kita kulik kekuatan dan juga kelemahan kedua vendor terdekat itu.

Ericsson

Bagi Ericsson, menjadi vendor terbesar di industri 5G, menjadi salah satu pembuktian bahwa perusahaan-perusahaan Eropa masih menjadi kiblat dari industri selular dunia.

Seperti kita ketahui, pasar jaringan telekomunikasi sebelumnya identik dengan vendor-vendor Eropa, khususnya negara-negara Skandinavia. Selama bertahun-tahun, pemain seperti Ericsson, Nokia, Alcatel Lucent (almarhum), Siemens (almarhum) telah menguasai bisnis jaringan sejak era 1G dan 2G.

Namun transisi teknologi ke 3G dan kemudian berlanjut ke 4G, mengubah peta pasar. Dimotori oleh Huawei dan ZTE, vendor China semakin agresif. Strategi harga lebih murah dibandingkan para pesaing, membuat pamor vendor-vendor China dengan cepat melejit.

Wajar jika akhirnya mereka mampu meraih kontrak di banyak negara, baik Asia Pasifik, Afrika, Eropa, AS, Australia, hingga Amerika Latin. Alhasil, dengan memanfaatkan peluang pertumbuhan 4G, hanya dalam satu dekade kemudian, Huawei mampu melibas Ericsson dan Nokia.

Berdasarkan laporan Dell’Oro Group, hingga semester pertama 2020, lima vendor jaringan teratas ditempati Huawei, Nokia, Ericsson, ZTE dan Cisco.

Meski tengah dalam tekanan AS, sebagai market leader, pangsa pasar Huawei justru meningkat menjadi 31% dari 28% pada tahun lalu.

Nokia turun dari 16% tahun lalu menjadi 14%. Sedangkan Ericsson tetap bertahan di 14%. Di sisi lain, market share ZTE meningkat dari 9% tahun lalu menjadi 11%. Vendor asal AS, Cisco turun dari 7% menjadi 6% dalam jangka waktu yang sama.

Meski saat ini pangsa pasar Nokia tidak berbeda dengan Ericsson, namun dari sisi kontrak 5G, Ericsson jauh mengungguli Nokia.

Dalam pernyataan resmi pada Agustus lalu, Ericsson mengumumkan telah meraih perjanjian atau kontrak komersial jaringan 5G ke-100 dengan penyedia layanan komunikasi di seluruh dunia.

Angka tersebut termasuk 58 kontrak yang diumumkan secara publik dan 56 jaringan 5G yang sudah live di lima benua. Sementara Nokia pada Maret 2020, baru meraih 63 kontrak 5G komersial.

Meski telah meraih kontrak 5G secara signifikan, namun bukan rahasia lagi bahwa Ericsson masih terus berjuang secara finansial. Padahal sejak lima tahun terakhir, vendor yang berbasis di Stockholm itu, telah memulai serangkaian pemotongan biaya dalam upaya untuk membalikkan penurunan tajam dalam kinerja keuangan.

Demi menekan lonjakan biaya operasional, perusahaan terpaksa melakukan rasionalisasi hingga 25.000 pekerja di luar Swedia. Perusahaan juga memfokuskan kembali bisnisnya menjelang booming penyebaran teknologi 5G di pasar global.

Namun sejauh ini, kinerja Ericsson masih terbilang turun naik. Tak terkecuali pada tahun ini, saat dunia tengah menghadapi wabah corona. Tercatat pendapatan Ericsson turun sebesar 2% menjadi SEK 49,8 miliar pada Q1 2020 dibandingkan dengan 48,9 miliar pada Q1 2019. Penjualan turun di setiap unit bisnis perusahaan kecuali jaringan, yang mencatat pertumbuhan nol, padahal sebelumnya mengalami peningkatan 10% pada kuartal tahun sebelumnya. Seperti bisnis lainnya, pandemi corona membuat kinerja Ericsson terpangkas.

CEO Ericsson Borje Ekholm, mengatakan bahwa pihaknya berusaha mempertahankan target pendapatan dan laba untuk tahun 2020 dan 2022, meskipun pandemi virus corona telah menyebar ke seluruh dunia.

“Kami tetap memandang positif pada prospek jangka panjang. Meski demikian kuartal kedua kemungkinan akan sedikit lebih lambat dari biasanya karena waktu kontrak strategis dan ketidakpastian yang disebabkan oleh Covid-19,” kata Ekholm.

Walaupun mengharapkan peningkatan 10% di akhir tahun, dan pengeluaran berkelanjutan untuk peluncuran 5G oleh pelanggannya, Ericsson tidak dapat berbuat apa-apa tentang penundaan lelang spektrum di Eropa yang akan menghambat aktivitas bisnisnya di wilayah tersebut.

Salah satu ketidakpastian adalah apakah COVID-19 akan mendorong penyedia layanan di bawah tekanan penjualan untuk mengurangi investasi yang direncanakan di jaringan selular tahun ini.

Di negara-negara yang melakukan lockdown, sebagian besar pertumbuhan lalu lintas data terjadi pada jaringan fixed broadband, dan beberapa operator mungkin tidak lagi melihat 5G sebagai prioritas langsung.

Huawei

Karena tekanan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya,  Huawei telah menghadapi banyak krisis global sejak beberapa tahun terakhir. Namun persoalan geopolitik tidak menghentikan raksasa teknologi China itu untuk menikmati beberapa kesuksesan.

Vendor yang berbasis di Shenzen itu melaporkan pendapatan sebesar 454 miliar yuan (sekitar $ 64,9 miliar) untuk paruh pertama 2020. Tumbuh sekitar 13,1% lebih banyak dibandingkan 2019. Bahkan margin laba bersih meningkat dari 8% menjadi 9,2% selama periode tersebut.

Meskipun Huawei tidak merinci angka-angka yang saat ini belum diaudit, perusahaan yakin pandemi COVID-19 tidak merusak seperti yang terjadi pada perusahaan lain. Teknologi komunikasi dan informasi telah menjadi “alat penting” untuk memerangi virus dan memacu pemulihan ekonomi, kata perusahaan yang berbasis di Shenzen itu.

Bagaimana pun, dampak pandemi membuat kinerja perusahaan sedikit menurun. Pada kuartal 1-2020, Huawei hanya mencatat kenaikan pendapatan 1,4% dari tahun ke tahun.

Pandemi telah memengaruhi seluruh industri selular, menyebabkan perusahaan memperlambat produksi, menutup toko ritel, dan kehilangan beberapa penjualan perangkat. Huawei tampaknya sangat terpukul selama kuartal pertama 2020, ketika pandemi mencapai puncaknya di negara asal perusahaan itu, China.

Perlu dicatat juga bahwa penurunan itu terjadi di tengah tekanan terus-menerus dari AS. Dengan alasan keamanan dan spionase, AS memperpanjang perintah larangan perdagangan terhadap Huawei hingga Mei 2021.

Langkah tegas AS kemudian diikuti oleh Inggris dan Perancis. Kedua negara itu menganulir keputusan sebelumnya yang mengizinkan peralatan Huawei terlibat di bagian non-inti dari jaringan 5G.

Begitu pun dengan Italia. Operator terbesar di negara sphageti itu, Telecom Italia telah mengeluarkan Huawei dari tender peralatan 5G untuk jaringan inti yang sedang dipersiapkan untuk dibangun di Italia dan Brasil.

Bukan tidak mungkin, negara-negara lain Eropa seperti Jerman dan Polandia akan mengikuti jejak yang sama. Padahal, pasar jaringan di kawasan Eropa selama ini menjadi sumber utama pendapatan Huawei.

Huawei telah memproduksi banyak peralatan yang digunakan di jaringan 2G, 3G, dan 4G di Inggris dan Eropa. Vendor dengan logo mirip bunga merah menyala itu, memegang 65% pangsa pasar jaringan akses nirkabel 2G dan 4G untuk operator EE (Everything Everywhere) di Inggris. Huawei juga menempati 50% pangsa pasar jaringan 2G, 3G dan 4G Vodafone, operator selular terbesar di Eropa.

Tak dapat dipungkiri, bahwa hari-hari pertumbuhan pesat yang sebelumnya diraih oleh Huawei mungkin sudah berlalu. Patut dicatat, meskipun perusahaan meraih pertumbuhan 13,1% pada semester pertama 2020, namun pencapaian itu jauh lebih kecil dibandingkan lonjakan pendapatan sebesar 39% yang diraih setahun sebelumnya.

Tak dapat dipungkiri, aksi pemblokiran oleh pemerintah AS membuat Huawei berada dalam tekanan. Ketua rotasi Huawei Eric Xu, mengakui bahwa 2019 adalah tahun paling sulit yang pernah dihadapi perusahaan.

Hal itu diperberat dengan adanya wabah virus corona yang mengganggu rantai pasokan. Xu memperkirakan pada 2020 dampaknya akan lebih keras, sehingga membuat hampir mustahil untuk secara akurat memperkirakan kinerja perusahaan.

Sebelumnya pada Juni 2019, pendiri dan CEO Huawei Ren Zhengfei, memperingatkan bahwa berbagai pembatasan oleh AS akan memangkas hingga USD30 miliar potensi pendapatan selama dua tahun ke depan. Reng pun memprediksi, revenue perusahaan diperkirakan akan anjlok menjadi sekitar US$ 100 miliar pada 2020.

Meski didera virus corona dan sulit keluar dari tekanan AS, Ren menegaskan bahwa hal itu tidak mengurangi upaya perusahaan untuk mengembangkan teknologi sendiri, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor AS.

Itu sebabnya, Ren mengatakan bahwa Huawei akan kembali meningkatkan anggaran riset dan pengembangan (R&D) pada 2020 sebesar $ 5 miliar menjadi lebih dari $ 20 miliar. Angka itu, bakal menempatkan Huawei sebagai perusahaan terbesar kedua di dunia dalam alokasi investasi R&D.

Sekedar diketahui, investasi R&D raksasa teknologi China itu pada 2018 sudah menempati peringkat ke-4 di antara perusahaan teknologi global. Melampaui Microsoft, Apple dan Intel.

Menurut statistik Uni Eropa, investasi litbang Huawei pada 2018 sebesar 101,5 miliar yuan ($ 15,1 miliar). Meninggalkan Samsung, Google, dan Volkswagen.
Sepanjang 2018, perusahaan meraih 721,2 miliar yuan dalam pendapatan penjualan global, menghabiskan 14,1 persen dari total pendapatan untuk anggaran R&D.

Pada 2019, ditengah tekanan yang semakin kuat dari AS dan sekutu-sekutunya, pengeluaran litbang Huawei meningkat 30 persen menjadi CNY131,7 miliar, atau 15,3 persen dari total pendapatan. Tercatat total pengeluaran R&D Huawei dalam sepuluh tahun hingga akhir 2019 sudah melebihi CNY600 miliar.

Investasi sebesar itu diklaim telah membantu Huawei mempertahankan posisi terdepan dalam teknologi 5G. Pada awal Februari 2020, Huawei menyebutkan telah menandatangani 91 kontrak 5G komersial dan mengirimkan lebih dari 600.000 unit antena aktif 5G ke berbagai negara.

Meski Huawei meyakini dapat mengatasi tekanan AS, namun tak dapat dipungkiri bahwa kinerja perusahaan telah melambat. Tanpa akses ke pasar startegis seperti Eropa dan AS, perusahaan mungkin tidak memiliki banyak ruang untuk tumbuh.

Pencapaian pada kuartal pertama 2020, telah menunjukkan hal tersebut. Tercatat pendapatan naik hanya 1,4%, turun tajam dibandingkan peningkatan 39% setahun sebelumnya. Laba bersih di raksasa China itu juga turun hampir 8%, menjadi hanya sekitar $ 1,9 miliar.

Beruntung, Huawei masih dapat mengandalkan pasar domestik. Pasca peluncuran komersial pada Oktober 2019, China saat ini tengah berpacu dengan penyebaran 5G-nya sendiri.

Sebagai pemasok domestik terbesar, Huawei kemungkinan akan menjadi penerima manfaat utama. Perusahaan telah mendapatkan sekitar 58% dari tender China Mobile senilai sekitar $ 5,2 miliar.

Dengan China menargetkan peluncuran sekitar setengah juta mobile base station 5G pada akhir 2020, China Telecom dan China Unicom, dua operator nasional lainnya, diharapkan mengumumkan kontrak multi-miliar dolar pada waktunya.

Namun pencapaian yang luar biasa di dalam negeri tak ada artinya jika pasar global menjadi terbatas. Apa boleh buat, jika AS tidak mengendurkan tekanannya, Huawei terancam jadi “Jago Kandang”.

Categories
Dunia Ponsel

Selain Konektivitas, 4 Alasan 5G Penting Bagi Indonesia

Sejumlah negara masih bertaruh untuk mencoba mengimplementasikan jaringan generasi kelima alias 5G, tak terkecuali bagi Indonesia. Bukan hanya soal konektivitas, setidaknya ada 4 alasan mengapa kehadiran 5G begitu penting.

Dr. Ismail, Dirjen SDPPI Kominfo, menyampaikan bahwa tujuan 5G lebih dari sekedar melengkapi jaringan. Hal ini diutarakan lewat webinar yang bertajuk “Unlocking 5G Potensial for Digital Economy in Indonesia”, Kamis (23/9).

“Bukan untuk melengkapi jaringan saja, tapi jauh lebih luas dari itu agar dampaknya bisa maksimal bagi kepentingan bangsa dan negara,” ungkapnya.

Dikatakan Ismail, teknologi 5G sangat berbeda dengan teknologi jaringan lainnya yang hanya berkaitan dengan User Experience. Menurutnya, kemampuan-kemampuan teknis dari sisi 5G, seperti data lead, latency, connectivity serta IoT itu akan memberikan impact berbeda, tak seperti perubahan dari 3G ke 4G yang hanya menghadirkan data speed.

Untuk itu, Ismail memaparkan ada 4 alasan penting mengapa Indonesia memerlukan 5G. Pertama, dikatakan Ismail guna mendukung 5 prioritas kerja yang sudah dicanangkan Kabinet Indonesia Maju.

Baca juga:  Kendala Jaringan 5G di Indonesia

Seperti yang diketahui, prioritas itu terdiri atas pembangunan SDM, pembangunan infrastruktur, transformasi ekonomi, memangkas regulasi serta penyederhanaan birokrasi.

Ismail juga mengatakan alasan kedua adalah untuk mewujudkan roadmap ‘Making Indonesia 4.0’.

“Kemampuannya (5G) yang latency sangat rendah tadi, bisa mengubah wajah perindustrian kita menjadi industri yang modern, sehingga bisa menghasilkan produk-produk dengan cost yang lebih efisien,” terang Ismail.

Ketiga, untuk mendorong pertumbuhan 5 destinasi wisata super prioritas. Terutama, ditengah pandemi yang saat ini mengalami slow-down.

Terakhir, ismail mengatakan untuk mempersiapkan kehadiran ibukota baru Indonesia yang sudah diselimuti ekosistem 5G.

“Agar 5G langsung bisa hadir disana, ketika Kalimantan ini ditetapkan sebagai ibukota untuk Indonesia,” tandasnya.

Categories
Dunia Ponsel

LG Wing, Ponsel Bersayap Desain Putar

Smartphone lipat dipopulerkan Samsung dan Huawei tahun lalu, tahun ini LG membuka halaman baru dalam sejarah smartphone dengan Wing 5G.

Perusahaan merasa desain smartphone yang itu-itu saja (candybar) saat ini sudah stagnan dan mereka ingin menggunakan penyegaran dengan memutar.

LG Explorer Project sebuah inisiatif yang bertujuan untuk menghembuskan kehidupan baru dalam desain ponsel cerdas. Ini tentang mengambil risiko dan menghadirkan inovasi praktis kepada pelanggan dan Wing hanyalah permulaan.

LG juga mengungkapkan akan bermitra dengan berbagai brand termasuk Qualcomm, mesin pencari Naver dan platform streaming Tubi dan Ficto untuk memanfaatkan desain barunya.

LG Wing hadir dengan layar utama P-OLED 6,8 inci melengkung dengan resolusi FHD+ dan rasio aspek 20,5:9.

Kamera selfie 32MP menggunakan mekanisme pop-up. Layar sekundernya adalah G-OLED 3,9 inci dengan resolusi FHD+ dan rasio aspek 1,15:1.

Seperti yang dapat Anda bayangkan, tidak ada peringkat IP resmi, tetapi layarnya dilengkapi dengan lapisan anti air.

Masalah besar dengan Wing adalah Anda dapat menggunakannya sebagai telepon biasa jika Anda mau, tetapi begitu Anda memunculkan layar utama secara horizontal, Anda mendapatkan bentuk baru untuk kasus penggunaan berbeda yang unik.

LG bertaruh besar pada konsumsi konten dan menargetkan Wing pada pengguna yang suka menonton video saat bepergian.

Berkat layar kedua, pengguna tidak akan mendapatkan gangguan layar saat menerima notifikasi dan mendapatkan pengalaman menonton yang lebih imersif.

Pengguna juga dapat mengedit video langsung setelah merekamnya langsung di layar kedua atau menggunakan navigasi GPS sambil mengelola panggilan di layar yang lebih kecil.

Desain putar hadir dengan mekanisme kunci ganda dan peredam hidrolik yang meredam guncangan.

LG mengklaim Wing akan bertahan hingga 200.000 kali putaran. LG juga berhasil mendapatkan dimensi yang mendekati smartphone biasa pada 169,5 x 74,5 x 10,9mm. Ponsel ini memiliki berat 260 gram.

Spesifikasi lainnya termasuk kamera utama 64MP, kamera ultrawide 12MP khusus untuk mode putar dan ultrawide 13MP lainnya. Ada mode gimbal dengan joystick virtual di layar kedua.

Ponsel sayap ini didukung oleh Snapdragon 765G yang dipasangkan dengan RAM 8GB dan penyimpanan 128/256GB. Baterainya 4,000mAh dan ada juga dukungan pengisian nirkabel di papan.

LG tidak mengungkapkan rincian harga tetapi Wing akan datang ke AS melalui Verizon terlebih dahulu, diikuti oleh AT&T dan T-Mobile. Tidak ada tanggal rilis pasti, LG akan mengungkapkan detail lebih lanjut.

Categories
Dunia Ponsel

Di Jepang, Sharp Rilis Empat Smartphone Baru

Sharp meluncurkan empat smartphone baru untuk pasar Jepang, semuanya berbasis chipset Snapdragon, dan dua di antaranya mendukung konektivitas 5G.

Sharp Zero5G Basic

Ponsel ini ditenagai oleh chipset Snapdragon 765G, dipasangkan dengan RAM 6GB dan penyimpanan 64GB. Juga akan ada opsi 8/128GB saat ponsel diluncurkan dalam beberapa bulan mendatang. Ponsel sudah menjalankan Android 10.

Di bagian belakang, ada kamera utama 48MP (f/1.8) yang bergabung dengan kamera ultra lebar 13.1MP (125°) dan kamera tele 8MP dengan pembesaran 3x (79 mm). Kamera selfie memiliki sensor 16,3MP.

Seperti tiga saudara kandungnya, Zero5G Basic sudah mengantongi sertifikat IP68/IPX5 untuk ketahanan debu dan air. Baterai 4.050mAh-nya tidak disebutkan kecepatan pengisian daya.

Sharp Sense4

Ponsel ini praktis kecil menurut standar saat ini dengan layar 5,8 inci (1080p+, panel IGZO) dengan pembaca sidik jari di bawah layar. Jika Anda meletakkan jari Anda di atasnya dan menahannya selama beberapa detik, itu akan mengaktifkan sistem pembayaran nirkabel.

Sense4 ditenagai oleh chipset Snapdragon 720G, yang menawarkan kinerja lebih dari dua kali lipat dari model sebelumnya, kata Sharp. Model baru ini hadir dengan RAM 4GB dan penyimpanan 64GB.

Bagian belakang memiliki kamera utama 12MP (f/2.0), ultrawide 12MP (121°) dan lensa telefoto 8MP dengan pembesaran 2x (53 mm). Di bagian depan, ada kamera selfie 8MP.

Sharp Sense4 dilengkapi dengan baterai 4.570mAh. Ponsel akan tersedia sebelum akhir tahun dalam warna Tembaga Muda, Perak dan Hitam.

Sharp Sense4 Plus

Perangkat ini sama sekali tidak mungil, ia menampilkan layar 6,7 inci. Bukan panel IGZO tetapi memiliki fitur kecepatan refresh 90Hz dan kecepatan pengambilan sampel sentuh 120Hz. Pembaca sidik jari telah dipindahkan ke belakang.

Chipsetnya sama, S720G, tetapi pada model Plus memiliki dua kali lipat RAM dan penyimpanan, masing-masing 8GB dan 128GB. Namun, kapasitas baterainya turun menjadi 4.120mAh, meski sasisnya lebih besar.

Kamera utama mendapat sensor 48MP yang lebih besar di belakang lensa f/1.8 yang lebih cerah. Namun, kamera ultrawide menurunkan resolusinya menjadi 5MP dan bidang pandang menjadi 115°. Kamera zoom digantikan oleh dua modul 2MP (makro dan kedalaman). Kamera selfie juga mendapat sensor kedalaman 2MP.

Sharp Sense5G

Ponsel pada dasarnya adalah versi 5G dari Sense4. Itu mengubah chipset menjadi Snapdragon 690. Ia mendapat RAM 4GB dan penyimpanan 64GB yang sama dengan versi LTE, namun penyimpanannya sekarang UFS, yang akan memberikan pembacaan dan penulisan yang lebih cepat.

Menariknya, model ini seharusnya diluncurkan dengan Android 11 sementara kembaran 4G-nya akan dimulai dengan versi 10. Layar, kamera, dan baterainya sama di antara keduanya.

Keempat ponsel Sense baru akan tersedia pada awal kuartal keempat 2020 di Jepang.